Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Kamis, 24 Maret 2011

menjangkau ahlak yang baik

http://1.bp.blogspot.com/_4RTfmLrVYn0/TABnIxrJpfI/AAAAAAAAABc/AKwE4WPBvp8/s1600/serv015.jpg

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaithan, maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, TETAPI ALLAH MEMBERSIHKAN SIAPA YANG DIKEHENDAKI-NYA. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nuur (24) : 21)
Setiap manusia mendambakan arahan perjalanan hidup yang serba pasti dan jelas, yang bagi ummat Islam arahan perjalanan hidup yang serba pasti dan jelas itu ialah Al Qu’an. Beratnya langkah untuk hidup secara pasti dan jelas ialah karena langkah manusia dikencongkan oleh syaithan. Makin terbelok-terbujuk manusia, makin tebal kerak dosanya. Bila diibaratkan, maka perjalanan manusia memikul dosa ibarat seekor unta yang berjalan timik-timik, menyeberang lautan pasir luas tanpa batas, mencari tujuan akhir hidupnya tanpa kepastian dan kejelasan.
Maka dengan penuh rasa hiba melihat manusia yang sungguh berat memikul beban dosa, Allah menyeru sekalian manusia para hamba-Nya untuk hidup bebas dari beban dosa, artinya untuk hidup benar dengan akhlaq indah terpuji. Seruan itu, dalam Al Qur’an diungkapkan dengan kata seru: “Wahai”. Pertanyaannya, tidakkah manusia khususnya ummat Islam memperhatikan bagaimana cara Allah menyeru kepada manusia? Bila manusia khususnya ummat Islam jeli memperhatikan dengan “rasa indah” di dalam firman-Nya, baik dari segi kata, bahasa maupun intonasi/nada kata, akan dirasakan “adanya getar jalinan kelembutan dan keakraban Allah dengan manusia”.
Maksud dialirkan getar kelembutan dan keakraban-Nya dalam menyeru manusia, tidak lain untuk memancing kesadaran manusia, bahwasanya bagaimanapun dan siapa pun manusianya tidak akan dapat melepaskan dirinya dari Allah, disebabkan ALLAH SELALU MENGAKRABKAN DIRI DENGAN MANUSIA. Meskipun manusia berusaha membuat jarak dengan Allah, Allah tetap menyeru dengan bahasa dan kata yang mengandung kelembutan dan keakraban. Inilah yang menjadikan manusia sulit melepaskan diri dari Allah. Dalam hal ini cara Allah menyeru manusia dibagi dalam beberapa kelompok disesuaikan dengan tingkat keyakinan. Melalui cara Allah dalam menyeru manusia ini saja, jika manusia khususnya ummat Islam mau mengambil pelajaran berhikmah, maka tampaklah di dalamnya kandungan pelajaran “cara mendidik dan membina akhlaq yang indah”.
Sebab siapa pun kelompok dan tingkat keyaqinan manusia, menyeru manusia dengan sebutan kata “Wahai”. Pada kata “Wahai” inilah terdapat getar kelembutan dan keakraban antara Allah selaku Pencipta dengan manusia selaku yang dicipta. Demikianlah cara Allah menghargai ciptaan-Nya. Selagi Allah selaku Pencipta masih saja bersikap menghargai ciptaan, anehnya mengapa manusia selaku sesama ciptaan tidak saling menghargai, bahkan sebaliknya saling mencerca dan mencela? Seruan Allah terhadap manusia berdasarkan kelompok yang disesuaikan dengan tingkat keyaqinan di antaranya adalah: “Wahai Rasul”, “Wahai Nabi”, “Wahai Manusia”, atau seperti pada awal ayat di atas “Wahai orang-orang beriman”, “Wahai orang-orang kafir”, “Wahai Bani Isra’il”, “Wahai orang-orang munafiq”, “Wahai ahli kitab”, dan lain-lain.
Demikianlah, Allah memanggil hamba-Nya semata-mata karena kemurahan dan kasih-Nya, sedangkan bagi manusia, seseorang yang dipanggil oleh atasannya, biasanya karena akan diberi penghargaan. Misalnya, seorang presiden yang memanggil salah seorang warganya untuk diberi penghargaan berbentuk tanda jasa karena memang telah nyata jasanya bagi negara dan bangsa. Namun bagi Allah, Dia memanggil para hamba-Nya bukan karena kebaikan atau keburukan si manusia tetapi semata-mata karena belas kasih dan hiba-Nya. Maksudnya, Allah akan tetap memberikan pertolongan-Nya tanpa didahului permintaan si hamba”.
Allah tak menunggu si hamba memohon dengan penuh harap, kejujuran dan ketulusan. Meskipun si hamba belum memohon-meratap dengan penuh sungguh dan harap, jujur disertai ketulusan hati, Allah tetap mengulurkan tali pertolongan-Nya. Maka sudah sepatutnya bila manusia khususnya ummat Islam mensyukuri tali pertolongan Allah itu. Pertanyaannya, bagaimana cara mensyukurinya?
Yang banyak dilupakan oleh ummat Islam ialah mengkaji kandungan makna keilmuan yang ada di dalam Al Qur’an. Pernahkah ayat-ayat Al Qur’an itu diperhatikan dengan seksama, dan lanjut dengan memohon secara sungguh-sungguh agar Allah memudahkan untuk memahami, mengerti dan menyikapi petunjuk arah perjalanan hidup itu?
Pernahkah direnungkan mendalam kata demi kata, dalam ayat-ayat, surah-surah, bagian-bagian Al Qur’an (‘juz’), pada segi persoalan apa Allah menolong si hamba?
Pada ayat-ayat dengan kata seru “Wahai” (harfun nidaa’ يَآ ) itulah antara lain, terdapat bukti nyata pertolongan Allah bagi si hamba. Terasa betul bagaimana belas-kasih Allah kepada si hamba. Apabila dalam juz tertentu si hamba diseru Allah dengan “Wahai orang beriman”, seakan tersirat suatu makna bahwa Allah menghendaki si hamba makin tumbuh kokoh keimanannya. Seperti misalnya pada ayat pembuka di atas. (QS. An Nuur (24) : 21), manusia beriman diseru untuk mewaspadai bujukan-bujukan syaithan dan diingatkan bahwa bujukan-bujukan syaithan itu hanya mengajak kepada perbuatan sesat dan sifat tercela. Dengan cara mencermati demikian itulah, muncul sedikit demi sedikit rasa syukur dalam diri si hamba. Artinya, Allah menggerakkan di hamba untuk mensyukuri petunjuk dari sisi-Nya yaitu Al Qur’an. Jika ayat demi ayat diresapi, akan terasa benar bahwa maksud Allah menurunkan Al Qur’an ialah mengulurkan tali pertolongan bagi ummat manusia yang ada dalam kubangan lumpur dosa dan kesesatan.
Dan bagi tiap pribadi, Allah mengulurkan tali pertolongan itu tanpa didahului permintaan si hamba. Bukankah Al Qur’an dan Rasul-rasul pun diturunkan tanpa pernah ada permintaan dari ummat manusia? Dengan cara mengkaji dengan mendalam seperti itu, akan terasalah bahwa Allah tetap akan menolong si hamba semata-mata karena Allah melihat perjalanan hidup si hamba terbebani sangat berat oleh dosa. Khususnya, Allah sangat hiba melihat perjalanan hidup si hamba terbebani sangat berat oleh dosa dalam rangka menselaraskan kehendak dirinya, yang dimunculkan si hamba dalam bentuk kegiatan hidup dan kehidupannya, agar selaras dengan kehendak-Nya.
Namun meskipun Allah hendak menolong para hamba-Nya, Allah tetap menunggu kesadaran dan jihad si hamba keluar dari kubangan dosa. Banyak ummat Islam yang telah berupaya dengan penuh kesungguhan untuk keluar dari kubangan dosa dan sifat tercela, namun sayangnya, tak semuanya mengetahui dengan pasti dan jelas, apa yang menghambat upaya mereka. Di sinilah Al Qur’an menunjukkan jalan. Dalam setiap juz tertentu terdapatlah secara sangat jelas, dalam hal apa sebenarnya manusia terbebani, yaitu apabila isi kandungan ayat dimana Allah menyeru dengan “Wahai” terasa berat untuk dilaksanakan. Pada persoalan yang ditunjukkan oleh isi kandungan ayat itulah sebetulnya Allah hendak menolong, tetapi, si hamba terbebani sangat berat oleh keadaan dirinya sendiri. Itulah tujuan mengkaji dan menggali dan mensikapi kandungan makna keilmuan Al Qur’an dengan mencermati secara mendalam dan penuh seksama ayat demi ayat dan kata demi kata.
Selanjutnya, tentu muncul pertanyaan: sebetulnya, apakah beban yang sangat berat itu? Beban itu ialah kegiatan “mendongkel iblis dalam diri”. Maksudnya ialah “mendongkel sifat-sifat tercela, sifat kebinatangan atau sifat iblisiyah yang ada dalam diri sendiri”. Karena iblis hanya dapat memboncengi sifat tercela. Sifat-sifat iblisiyah dalam diri itu misalnya:
· Sombong,
· Putus asa,
· Tamak,
· Iri,
· Dengki,
· Serakah
dan lain-lain yang sangat bisa jadi bukan muncul secara terang-terangan dalam ucap-sikap perilaku jasadiyah seperti berpacaran atau korupsi, namun yang banyak terjadi ialah sifat tercela yang lebih tersembunyi, yaitu sikap tercela bathiniyah yang keberadaannya “dibantu” dan dibenarkan oleh logika, misalnya sok gengsi karena merasa telah berilmu.
Keberadaan sifat-sifat itulah yang akan ditunjukkan oleh isi kandungan ayat-ayat Al Qur’an, di mana Allah menyeru dengan seruan “Wahai”. Untuk setiap bagian Al Qur’an atau juz, ayat-ayat yang bermuatan seruan Allah itu sangat perlu untuk dicermati dengan seksama, jika kita bertekad bulat hendak “mendongkel” habis sifat-sifat tercela “tempat bersembunyi” atau “pintu masuk” iblis dalam diri.
Meskipun sifat tercela itu telah “didongkel” dalam arti, dengan pertolongan Allah semata, telah diupayakan untuk dihindari dan tidak lagi menjadi sandangan diri, namun masih saja ada “tanaman” iblis dalam diri, yaitu dalam bentuk sifat tercela yang lebih halus sifatnya, misalnya:
· Selalu ragu
· Selalu beranggapan berfikir secara mengira-ngira tanpa kepasti-jelasan
· Berangan-angan/berkhayal
· Minta perhatian, penghargaan atau penghormatan atas prestasi-prestise-nya
Laksana tanaman benalu, begitulah “tanaman iblis” dalam bentuk sifat tercela dalam diri manusia. Maka sesungguhnya, dengan mengkaji secara seksama Al Qur’an selaku petunjuk perjalanan hidup yang pasti dan jelas, ibarat kita memenuhi seruan Allah yang menghimbau para hamba-Nya untuk melaksanakan perjalanan melepaskan diri dan kehidupan dari lilitan benalu! Maksudnya, untuk melepaskan diri dari sifat tercela iblisiyah.
Manusia dihimbau untuk mewaspadai sifat tercela iblisiyah, karena umumnya seperti yang dapat disaksikan di kehidupan alam, tepat di saat benalu mendapatkan tempat hidup di tengah-tengah kehidupan tanaman lain atau di hati tanaman lain, maka di saat itu pulalah dalam waktu seketika saja benalu itu pun tiba-tiba telah berhasil berkembang dan meluas, bahkan keberadaan si benalu dapat menutupi, dalam arti menguasai seluruh jenis tanaman lain yang sudah ada sebelumnya.
Demikian itulah gerakan benalu sifat iblisiyah yang tercela. Dalam secepat kilat dapat menguasai jantung-jantung kehidupan, membuat tanaman lain hanya terlongo-longo tak berdaya, apa pun yang dimaui si benalu terpaksa tanaman lainnya, yiatu ruh, rasa, hati, dan aqal manusia harus mengikutinya.
Kini jenis tanaman lain tersebut yang semula menjadi penghuni di lahan sendiri tetapi sekarang jenis tanaman lain tersebut harus menjadi tamu di lahannya sendiri, yang semula jenis tanaman lainnya bebas mengatur pertumbuhannya kini untuk menghirup nafas saja sudah sangat sulit, karena setiap gerak nafasnya harus pula mengikuti apa-apa yang diperintahkan si benalu yang menempel pada sifat nafsu yang tercela.
Demikian itulah nasib pertumbuhan ketenagaan ruh, rasa, hati dan aqal manusia yang sudah terlanjur memberikan kesempatan hidup bagi benalu sifat tercela iblisiyah dalam dirinya.
Dengan memahami, mengerti dan kemudian lanjut mensikapi ayat-ayat Al Qur’an sebagai arahan perjalanan hidup yang pasti dan jelas menuju hidup benar dengan akhlaq indah terpuji maka ketenagaan dalam diri manusia ruh, rasa, hati, aqal dan nafsunya akan tumbuh bebas berkembang sesuai dengan kefitrahannya.
Ciri bila timbul benalu dalam diri adalah keadaan lelah-letih dalam jiwa, misalnya: mengalami kejenuhan hidup, tak jelas membedakan yang haq dan yang bathil, bingung, nyaris putus asa, tak ada gairah perjuangan hidup, segan malas berbuat kebaikan. Keadaan kejiwaan tersebut menyebabkan ketenagaan yang tak selaras-lurus dengan kefitrahan, dan akhirnya muncul dalam jasad: lelah-letih pada bagian-bagian tubuh, atau bahkan gangguan kesehatan dan fungsi badan: di perut mual, kepala pusing, alat vital dan reproduksi, THT, dan lain-lain mengalami sakit atau tak normal fungsinya, yang sesungguhnya adalah pemunculan belaka dari ketidak-sehatan jiwa.
Secara kandungan makna keilmuan, hal-hal tersebut pun sebenarnya telah dinampakkan oleh kata-kata dalam ayat-ayat Al Qur’an. Kalam Ilaahi Al Qur’an berbukti-nyata menjelaskan segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya: …
“…Dan Kami turunkan Kitab (Al Qur’an) itu (untuk) menjelaskan segala sesuatu (QS. An Nahl (16) : 89).
Persoalannya terpulang kembali kepada kita ummat Islam; maukah mensyukuri ni’mat karunia Allah tersebut. Dan maukah dengan kesungguhan berupaya, agar tidak termasuk ke dalam golongan yang telah disinyalir oleh Rasulullah S.A.W. dalam firman-Nya sebagai berikut:
Berkatalah Rasul: “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan (tak dikaji dan disikapi dengan sungguh-sungguh)” (QS. Al Furqaan (25) : 30).
Bukankah mausia mendambakan arahan perjalanan hidup yang serba pasti dan jelas, yang bagi ummat Islam arahan perjalanan hidup yang serba pasti dan jelas itu sudah tersedia, yaitu Al Qur’an?



http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar