Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Jumat, 01 April 2011

Kebenaran Mutlak Dari dan Milik Allah

Berbicara masalah kebenaran, saya jadi teringat dengan firman Allah di dalam Q.S. 2(Al Baqarah) : 147 yang berbunyi:

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.

Dari ayat ini kita semua bisa memahami bahwa setiap kebenaran itu haruslah merujuk kepada apa yang telah Allah firmankan kepada setiap manusia. Sehingga jika ada suatu konsep kebenaran lain yang di ciptakan/dirumuskan oleh seseorang ataupun sekelompok orang diluar daripada ketetapan Allah, maka sesungguhnya konsep tersebut akan tertolak, sebagus apapun konsep tersebut.

Sebuah konsep kebenaran yang tidak bersumber dari ketetapan Allah (wahyu), maka tidak lain itu adalah merupakan hasil dari buah pikiran akal manusia yang merujuk kepada hawa nafsu serta ro’yunya sendiri. Dan bukankah sifat manusia itu cenderung kepada kezaliman dan cenderung menuruti kehendak hawa nafsunya yang tak terkendali?

Andaikata ada seseorang atau sekelompok orang membuat sebuah konsep kebenaran (benar menurut kehendak mereka), dan mereka pun ikut bergabung, atau bahkan turut menguatkan serta melestarikannya, maka pada hakikatnya mereka telah melanggar dan menentang firman Allah. Karena pada ayat yang telah tersebut diatas, Allah juga mengingatkan agar setiap manusia sekali-kali tidak ragu akan kebenaran yang bersumber dari Allah. Maka sudah tentu, mereka (orang-orang yang membuat konsep kebenaran menurut kehendaknya sendiri) termasuk orang-orang yang ragu, sehingga merasa enggan atau bahkan bersikap arogan terhadap kebenaran yang telah ditetapkan Allah. Padahal sudah jelas firman-firman Allah tidak ada keraguan sedikitpun dan merupakan petunjuk paling utama bagi orang-orang yang bertakwa (Lihat Q.S. 2(Al Baqarah) : 2).

Oleh karena itu, mulailah dari sekarang akhi dan ukhti berintrospeksi, sejauh manakah rasa tunduk-patuh akhi dan ukhti semua terhadap kebenaran yang bersumber dari Allah (wahyu)? Apakah anta dan anti termasuk kepada orang-orang yang ragu, arogan, atau malah antipati terhadap hal ini? Na’udzubillah… Saya yakin bahwa akhi dan ukhti sekalian bukan seperti yang tersebut di atas, dan senantiasa ingin berada didalam sebuah kereta yang didalamnya berisi akan nilai-nilai kebenaran hakiki, yang memiliki seorang masinis yang membawa akhi dan ukhti semua kepada tempat yang dituju sesuai dengan harapan dan keinginan, sehingga selamat, aman dan tak kurang suatu apapun.



Islam Din yang Universal

Maka Jalani Secara Kaffah (Keseluruhan)



Mengingat dunia ini diciptakan oleh Allah beserta pasangannya, kalu tidak putih ya hitam, kalau tidak terang ya gelap, kalau tidak siang ya malam, kalau tidak surga ya neraka, begitupun kalau tidak benar ya pasti salah.

Dan di dalam menjalani kehidupan ini, Allah memberikan dua jalan kepada manusia, yaitu jalan menuju kepada ridho-Nya (surga) dan jalan menuju kepada kemurkaan-Nya (neraka). Dan saya yakin, setiap orang pasti rindu untuk mendapatkan surga-Nya. Dan dalam hal ini kuncinya hanya satu: Berjalanlah di jalan yang menuju kepada ridho-Nya, titik!

Konsekuensinya, orang yang menginginkan surga Allah itu harus mau, tunduk, patuh kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah. Masuk serta ikutilah din Allah keseluruhannya. Sebagaimana telah Allah perintahkan di dalam Q.S. 2(Al Baqarah) : 208 yang artinya:



“Hai orang-orang yang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhannya), dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syetan”.



Dinul Islam itu tidak hanya berisi soal ibadah-ibadah ritual saja, tapi berisi tentang seluruhnya yang mencakup semua aspek kehidupan. Dimana disana terdapat juga ilmu ekonomi, politik, social, budaya bahkan pemerintahan (Daulah).

Dan ayat diatas ditujukan kepada orang-orang yang mengaku beriman, mereka diperintahkan oleh Allah untuk masuk kedalam Islam secara keseluruhan. Maka mau tidak mau, suka maupun tidak suka, terpaksa ataupun rela, mereka harus menjadikan segala sesuatunya berdasarkan Islam. Ekonomi yang digunakan adalah ekonomi Islam, politiknya politik Islam, sosial kemasyarakatannya juga Islam, budayanya budaya Islam, sampai kepada pemerintahannya pun harus pemerintahan yang Islam (Daulah Islam).

Hal ini sebenarnya sudah merupakan kewajiban bagi orang-orang yang mengaku beriman, karena keimanan seseorang tidak cukup hanya dengan di teguhkan dalam hati, ataupun di ucapkan dengan lisan saja, tapi juga harus direalisasikan secara sempurna dan konsekuen. Dan tidak ada istilah iman setengah-setengah, yang sekiranya akan menguntungkan dirinya maka dia iman, tapi jika ada yang tidak menguntungkan dirinya maka dia tidak iman. Orang-orang yang seperti ini oleh Allah di cap sebagai orang yang kafir dengan sebenarnya. Firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rosul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan Rosul-rosul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir kepada yang sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian itu (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang yang kafir itu siksaan yang menghinakan” (Q.S. 4(An Nisa) : 150-151).

Ayat tersebut jelas diperuntukan buat para sekuleris. Dimana mereka hanya menerima Islam setengah-setengah. Disatu sisi mereka menerimanya dan disisi yang lain mereka menolak. Contoh: Disatu sisi mereka mengerjakan sholat, shoum, zakat dan haji (ibadah ritual), akan tetapi disisi yang lain, katakanlah bermu’amalah, mereka tidak menggunakan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah, apalagi dalam menegakkan hukum-hukum-Nya. Seperti hukuman bagi para pezina, para pencuri, dan lain sebagainya. Mereka itulah orang-orang yang berdasarkan ayat di atas termasuk orang yang kafir, atau paling tidak mereka ragu untuk menerima aturan-aturan Islam seluruhnya.

Sehingga meskipun mereka seorang yang ahli sholat, yang mungkin sampai berbekas di wajahnya tanda bekas sujud, akan tetapi dia tidak beriman atau ragu dengan aturan-aturan Allah yang lain, maka sangat disayangkan sekali kalau dia tetap saja tergolong kepada orang-orang sekuler itu tadi. Mungkin mereka menyangka kalau mereka sudah berbuat sebaik-baiknya, padahal sesungguhnya mereka justru telah berbuat yang sia-sia dan merugi. Hal ini telah Allah terangkan dalam firmannya yang berbunyi:

“Katakanlah: “Apakah mereka hendak Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Q.S. 18(Al Kahfi) : 103-104).

Ayat selanjutnya dari surat Al Kahfi ini, Allah menerangkan tentang siapa yang Allah maksud sebagai orang yang rugi dan sia-sia perbuatannya serta tidak bernilai dihadapan Allah, meskipun perbuatannya tersebut berupa kebaikan atau amal sholih. Kata Allah: “Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat”.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, mungkin akhi dan ukhti ada bertanya: Apa iya orang yang sudah berbuat kebaikan, apalagi dengan mengerjakan sholat siang dan malam dikatakan sia-sia dan tidak ada nilainya di mata Allah? Dan bagaimana bisa saya menyimpulkan kalau orang yang rajin mengerjakan ibadah sholat yang mungkin diiringi juga dengan ibadah-ibadah yang lain seperti shoum, zakat, dan juga pergi haji, bisa menjadi tidak ada nilainya di hadapan Allah. Padahal ayat diatas sepertinya tidak dikhususkan buat orang-orang yang tersebut diatas?

Jawaban saya: Memang betul ayat tersebut diatas tidak dikhususkan bagi orang-orang yang rutin mengerjakan ibadah sholat. Dan mengenai penilaian daripada ibadah-ibadah sholat mereka itu sebenarnya merupakan hak prerogatif Allah semata, manusia tidak ada campur tangan dalam hal tersebut. Akan tetapi yang ingin saya pertegas dari ayat tersebut diatas adalah pernyataan Allah yang menyatakan bahwa orang-orang yang rugi, sia-sia, serta amalan-amalannya dihapus itu adalah mereka yang “kufur terhadap ayat-ayat Allah”. Dan setiap orang harus mengakui, memahami serta meyakini, kalau ayat-ayat Allah itu tidak tok berisi tentang perintah-perintah sholat saja, atau shoum saja, atau zakat serta haji saja, bukankah begitu? Bukankah ayat-ayat Allah itu juga berisi tentang bagaimana bermu’amalah, bagaimana menegakkan hukum, dan bagaimana memanage roda pemerintahan yang baik dan benar sesuai dengan ketetapan yang telah Allah ajarkan kepada manusia. Bukankan demikian?

Sehingga akhirnya, hal ini menjadikan kewajiban bagi orang-orang mu’min seluruhnya untuk menerima serta melaksanakan aturan-aturan Allah keseluruhannya secara sempurna dan konsekuen.



Satu-satunya Kebenaran Hakiki



Jika seseorang ataupun sekelompok orang telah menerima serta melaksanakan Islam secara kaffah, sempurna dan konsekuen, maka yakinlah bahwa sesungguhnya inilah konsep kebenaran yang hakiki. Karena manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah, begitupun dengan dunia beserta isinya. Maka tentunya hanya Allah sajalah yang tahu bagaimana manusia seharusnya hidup, untuk apa dia hidup, serta apa tujuan dia hidup. Semua itu telah diatur oleh Allah, manusia hanya cukup bersandar serta mentaatinya saja.

Akhi dan ukhti sekalian, sekali lagi saya katakan, inilah sebuah konsep kebenaran yang hakiki. Siapapun akan dipertanyakan keimanannya jika dia tidak menerima Islam secara utuh. Kita hanya cukup mengikuti petunjuk Allah dengan penuh keimanan agar kita mendapat rahmat.



“Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. 7(Al A’raaf) : 203).



Sebagai langkah awal untuk menuju kepada konsep kebenaran yang hakiki tersebut, terlebih dahulu hendaknya seseorang tidak ragu dan beriman kepada aturan Islam seluruhnya. Diiringi dengan iman, insya Allah pandangan serta fikiran akan menjadi terbuka dan hati akan menjadi hidup. Iman itu bersemayam di dalam hati. Dan hati yang hidup adalah hati yang senantiasa berhubungan dengan Allah. Tanpa iman yang kukuh, maka Islam yang Allah kehendaki tidak akan dapat di hidupkan dalam kenyataan. Hati yang beriman akan mendesak seseorang untuk senantiasa berusaha melaksanakan Islam yang universal (menyeluruh), Islam yang syamil (integral), dan kamil (sempurna). Hati para sahabat dimurnikan dengan tauhidulloh dan disuburkan dengan wahyu Allah. Maka contohlah para sahabat bagaimana mereka dengan hati yang tauhid serta hati yang tumbuh dengan wahyu Allah bisa melaksanakan sekaligus mengelola amanat-amanat Allah, sepeninggal daripada Muhammad Rosululloh saw.



Hakikat Keimanan



Bagi setiap orang yang mengaku beriman, maka esensinya dia wajib menjalani segala sesuatu yang telah diimaninya itu, sehingga sudah sepatutnyalah didalam hati mereka tergerak keinginan untuk menghidupkan sekaligus memunculkan isi daripada Kalamullah serta hudan Rosul. Namun jika tidak, maka keimanannya itu haruslah dipertanyakan, jangan-jangan imannya itu hanya bohong belaka (munafik). Sebagaimana Allah mensinyalir di dalam Q.S. 2(Al Baqarah) : 8, yang berbunyi:

“Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”.

Keimanan orang-orang tersebut diatas adalah imannya orang-orang munafik, yang hanya berujar di lisannya saja, akan tetapi realitanya mereka mengabaikan apa-apa yang mereka katakan. Maka sungguh amat besar kebencian Allah terhadap apa yang mereka katakan itu.



“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu pebuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Q.S. 61(Ash Shoff) : 2-3).



Oleh karena itu, setelah seseorang menyatakan bahwa dirinya beriman, maka keimanannya tersebut harus disertai dengan pembuktian, yaitu dengan bersungguh-sungguh serta bercita-cita untuk menghidupkan din Allah di muka bumi ini. Dan dari sini pula nantinya keimanan sesorang akan di uji oleh Allah. Allah berfirman:



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad diantara kamu…” (Q.S. 9(At Taubah) : 16).



Jihad di sini artinya bersungguh-sungguh. Sungguh-sungguh di dalam memperjuangkan din Allah di muka bumi, memperjuangkan syari’at Allah yang selama ini terabaikan. Yang selama ini kitabullah hanya di jadikan permainan atau senda gurau, yang selama ini hanya di jadikan sebagai pelengkap aksesoris atau almari, atau bahkan di jadikan sebagai azimat.

Sungguh ironi, dimana kitab suci Al Qur’an yang seharusnya di jadikan sebagai pedoman serta acuan di dalam menjalani segala aspek kehidupan, malah justru tergeserkan oleh acuan atau pedoman hidup yang lain, yang justru tidak jelas asal muasalnya, yang justru amat sangat diragukan keabsahannya, dan semua itu hanyalah hasil produk makhluk sok pintar, seolah-olah melebihi Allah dan Rosul-Nya. Na’udzubillah…



Kesimpulan



Bagi orang-orang yang ingin mendapat kebenaran, maka dia wajib memperhatikan pon-poin di bawah ini.

Yang pertama, setiap orang wajib meyakini bahwa kebenaran itu datangnya hanya dari Allah, kepunyaan Allah lah konsep kebenaran yang hakiki. Sehingga setiap orang harus senantiasa merujuk kepada Kitabullah wa sunnaturrosul. Dan diluar dari itu sudah pasti salah, karena tidak memiliki sumber yang hak dan shohih. Selain dari itu, konsep kebenaran di luar aturan dan petunjuk Allah, sangat diragukan serta sulit dipertanggungjawabkan. Maka cukuplah ikuti kebenaran yang datangnya dari Allah, Robb semesta alam, Pelindung serta Pengatur seluruh alam dan jagad raya ini.



“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (Q.S. 6(Al An’aam) : 153).

Yang kedua, setiap mu’min wajib menjalani din nya secara kaffah (keseluruhan), karena Islam adalah din yang universal (menyeluruh), syamil (integral), dan juga kamil (sempurna). Dan sangat tidak dibenarkan seseorang menjalaninya secara setengah-setengah (yang sekiranya enak, tidak merugikan dirinya, maka dia akan iman dan melaksanakannya, akan tetapi jika ada yang tidak enak, memberatkan dirinya, maka dia akan meninggalkannya). Orang-orang yang seperti inilah yang oleh Allah di golongkan sebagai orang yang kafir dengan sebenarnya.

Yang ketiga, setiap orang yang hendak mencari serta hendak melangkah di dalam sebuah konsep kebenaran yang datang dari Allah, maka terlebih dahulu hendaknya dia tumbuhkan rasa keimanan yang teguh, tanpa sedikitpun keraguan daripadanya. Niscaya dari sini akan muncul suatu gerakan yang mendorong dia untuk berpartisipasi di dalam menegakkan din Allah di muka bumi. Sehingga Islam yang tengah dia yakini dan jalani (perjuangkan), akan menjadi Islam yang mengarah kepada kedinamisan (haraki), dan bukan Islam yang mandeg, statis, sebagaimana orang sering salahartikan.

Dan point yang terakhir atau yang keempat, yang perlu diperhatikan adalah adanya refleksi dari keimanan yang teguh (sebagaimana point yang ketiga), yaitu jihad fi sabilillah. Dimana bentuk dari usaha-usaha menegakkan din Allah di muka bumi ini adalah dengan jihad (bersungguh-sungguh). Namun dalam hal ini, orang sering mengartikan serta menganggap jihad merupakan suatu bentuk gerakan yang keras, ekstrim, serta radikal. Ini adalah merupakan suatu anggapan yang kurang tepat. Mereka itulah justru orang-orang yang belum paham dengan Islam sesungguhnya, dan sama sekali belum mengerti tentang hakikat daripada perjuangan. Sesungguhnya, jihad bukanlah suatu bentuk kekerasan, akan tetapi tepatnya adalah bentuk aplikasi dari ketegasan dalam rangka merebut kembali kedaulatan Allah yang telah dirampas oleh para tirani yang sekuler.

Jihad pun tidaklah selalu identik dengan suatu gerakan fisik saja, tapi jihad juga bisa dilakukan dengan jalan menyebarkan berita-berita Allah melalui tulisan untuk disampaikan kepada seseorang, sekelompok orang dan atau kepada semua orang bergantung situasi dan kondisi serta kepentingan yang ada. Dan jihad pun bisa dilakukan dengan berdialog, diskusi, atau bahkan seminar, yang semua itu intinya dalam rangka bersungguh-sungguh berupaya menghidupi kembali cahaya Allah yang nyaris padam. Jadi tidak melulu dengan adu fisik, adu otot, ataupun adu senjata. Tapi itu pun tetap saja bisa terjadi manakala kesungguhan-kesungguhan yang tengah dilakukan justru mendapatkan respon yang negatif, tindakan kekerasan, intimidasi, atau sampai kepada pernyataan perang. Maka otomatis orang yang tengah bersungguh-sungguh itu tadi menjadi bangkit dan bergerak mempertahankan diri, karena hakikat berperang dalam Islam adalah manakala Islam itu diperangi serta dizolimi.

Jihad juga merupakan bias daripada bentuk keimanan yang benar, sebagaimana firman Allah:



“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” (Q.S. 49(Al Hujuraat) : 15). Lihat juga ayat yang senada di dalam Q.S. 8(Al Anfaal) : 74.



Penutup



Inilah kiranya beberapa kelumit uraian yang dapat saya sajikan kehadapan akhi dan ukhti sekalian yang tengah haus akan ilmu dalam rangka menempuh perjalanan mencapai ridho-Nya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat serta bisa di jadikan sebagai bahan pemikiran akhi dan ukhti semua.

Apa yang saya uraikan disini sama sekali tidak bermaksud hendak mengklaim antara si benar dan si salah karena saya pun bisa jadi orang yang tersalah, dan andai saja saya memang tersalah maka sepenuhnya akan saya terima. Akan tetapi satu hal yang ingin saya minta dan harapkan kepada akhi dan ukhti sekalian: bersedialah kiranya untuk mengkaji kembali ayat demi ayat yang telah saya nukilkan dalam rangkaian tulisan ini. Ayatnya sudah sangat jelas, dan mustahil Allah salah dalam firman-Nya. Dan saya pun dalam rangka memposisikan ayat demi ayat yang Allah terangkan kepada manusia sesuai dengan maksud dan tujuannya.

Anta dan anti boleh menganggap ini sebuah wacana, dan saya sama sekali tidak berniat memaksakan kehendak saya kepada anta dan anti sekalian, karena jika saya memaksakan kehendak saya, maka sesungguhnya saya telah melanggar etika da’wah Islam itu sendiri.



“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) din (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (Q.S. 2(Al Baqarah) : 256).



Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengklaim diri saya itu benar. Akan tetapi saya yakin kalau keteguhan hati serta konsep kebenaran yang telah saya uraikan disini adalah merupakan sebuah kebenaran hakiki yang datang dari Allah, karena insya Allah setiap gerak langkah, kalimat yang saya ucapkan, dsb. akan senantiasa saya optimalkan untuk merujuk serta mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dan di ajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya, karena sebaik-baik perkataan itu adalah perkataan Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Rosululloh saw.

Akhirnya saya mohon agar dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya jika dalam penyampaian tulisan saya ini banyak kesalahan serta kekurangan. Kurang, karena keterbatasan ilmu yang saya miliki dan salah karena diri ini merupakan hamba Allah yang dhoif yang tidak luput dari sejuta kesalahan. Kepada Allah lah saya mohon ampun. Allahu ‘alam bishowwab.

Billahi fi sabilihaq. Alhamdulillahi Robbil ‘alamin.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar