Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Minggu, 19 Juni 2011

TELADAN RASULULLAH DALAM MENGATASI KEMISKINAN

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.

(Q.S. Ar-Ruum [30]: 38).

Hari ini, seribu empat ratus dua puluh delapan tahun yang lalu, adalah tepat sehari setelah lahirnya sang pembebas yang agung, Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, dan di beberapa belahan bumi lainnya, hari kelahiran Rasul Agung yang terakhir ini dirayakan dengan berbagai kegiatan yang biasanya merupakan tradisi turun-temurun. Di balik perayaan-perayaan yang meriah tersebut, terlepas juga dari perbedaan ulama dalam menyikapinya, ada satu hal yang sering dilupakan, yakni teladan Rasulullah dalam bersikap dan berperilaku. Sangat disayangkan, sikap dan perilaku Rasulullah yang seharusnya diingat untuk kemudian ditiru tersebut tenggelam dibalik kemeriahan perayaan-perayaan maulid yang kebanyakan kurang mendidik. Padahal, baik sebagai pribadi, sebagai suami, maupun sebagai pemimpin umat, Rasulullah SAW adalah the best role model ever. Tidak akan pernah ada individu yang mampu menyamai kapasitas beliau sebagai teladan yang benar-benar patut dicontoh.

Salah satu contoh yang diperlihatkan oleh Rasulullah sebagai pemimpin adalah ketika menghadapi masalah kemiskinan. Berikut adalah riwayat yang menggambarkan cara Rasululah yang amat mendidik dan visioner dalam menyikapi kemiskinan. Teladan ini barangkali bisa menjadi inspirasi bagi kita dalam kapasitas sebagai seorang pemimpin, di manapun dan dalam bidang apapun.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa saya pakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul langsung berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menawarkannya kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasulullah menawarkannya kembali,” adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah menyuruh pengemis itu untuk membelikan makanan dengan uang tersebut untuk keluarganya, dan selebihnya, Rasulullah menyuruhnya untuk membeli kapak. Rasullulah bersbada, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya, Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos.

Setelah dua minggu, pengemis itu datang lagi menghadap Rasulullah sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.” (H.R. Abu Daud).

Jauh sebelum ada pepatah bijak “berilah kail, jangan beri ikannya”, yang mengajarkan kepada kita untuk memberi alat, ilmu, ataupun modal kepada seseorang agar berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri, alih-alih memberinya uang dan makanan, ternyata Rasulullah telah mempraktekkannya. Rasulullah SAW sadar betul bahwa jika beliau memberi uang kepada si pengemis yang miskin tersebut, maka selamanya ia akan menjadi peminta-minta. Bahkan mungkin anak-cucunya pun mengikutinya. Rasulullah SAW tentu juga sadar, bahwa sesungguhnya manusia diberi kesempurnaan fisik dan akal yang itu merupakan potensi luar biasa yang tanpa batas untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Syaratnya, manusia harus diberi akses, diberi sarana, dididik dan diarahkan dengan benar agar dapat bebas berkreasi.

Dalam riwayat Anas bin Malik di atas, saya menyimpulkan bahwa ada dua hal yang dipertimbangkan oleh Rasulullah SAW ketika menghadapi orang miskin peminta-minta tersebut. Pertama, terkait dengan modal (kapital). Menarik sekali untuk diperhatikan bahwa Rasulullah ternyata tidak langsung memberi uang (atau juga pinjaman) sebagai modal bagi si pengemis. Rasulullah justru mengeksplorasi (menanyakan) apa yang dimiliki oleh si pengemis yang bisa dimanfaatkan sebagai modal. Saya yakin, si pengemis sama sekali tidak pernah memikirkan dan membayangkan bahwa baju dan cangkir butut yang dimilikinya bisa menjadi modal. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak lain adalah untuk mencegah ketergantungan dan untuk mengajarkan bahwa apapun yang dimiliki oleh seseorang sebenarnya memiliki nilai produktivitas, tergantung bagaimana ia secara kreatif memanfaatkannya. Selain itu, kita juga mendapatkan pelajaran moral, bahwa sejelek dan seburuk apapun sesuatu yang kita miliki, sebenarnya ia tetap bernilai.

Kedua, terkait dengan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Saat membaca riwayat Anas bin Malik di atas, saya sempat bertanya-tanya, mengapa Rasulullah menyuruh si pengemis itu menjadi tukang kayu ya? Tidak adakah profesi lain yang lebih layak dan menguntungkan? Setelah sedikit ‘mereka-reka’, saya lalu berkeyakinan, bahwa selain karena profesi itu adalah yang paling sesuai dengan modal yang ada, Rasulullah pasti juga mempertimbangkan dua hal: kapasitas SDM si pengemis dan peluang pasar. Saya membayangkan, sang pengemis itu memiliki tubuh yang kekar dan kuat, kemudian waktu itu, orang yang berprofesi sebagai tukang kayu masih sedikit, sedangkan permintaan masyarakat akan kayu bakar sangat tinggi. Kondisi itulah yang kemudian mendorong Rasulullah SAW untuk merekomendasikan si pengemis menjadi tukang kayu.

Maha benar Allah dengan firman-Nya: Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.. (Q.S. An-Najm [53]: 2-5). Dengan kecerdasan, kapasitas intelektual, kebersihan hati, dan kejernihan jiwanya, sehingga kemudian dipilih oleh Allah SWT untuk memperoleh wahyu-Nya, Rasulullah tentu telah mengetahui apa yang harus dilakukan. Sehingga kebijakan-kebijakan Beliau sebagai pemimpin umat selalu baik dan adil. Tidak seperti kebijakan-kebijakan para pemimpin masa kini yang sarat kepentingan dan kekuasaan. Kebijakan pemerintah Indonesia misalnya, yang menggunakan pendekatan subsidi tak mendidik dalam mengatasi kemiskinan demi mempertahankan popularitas. Contoh nyata adalah kebijakan bantuan langsung tunai (BLT) untuk keluarga miskin sebagai kompensasi kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Kebijakan ini jelas-jelas sangat tidak mendidik masyarakat miskin untuk berkembang dan berkreasi. Kebijakan seperti ini hanya akan membuat masyarakat miskin menjadi tergantung pada pemberian bantuan. Bahkan, anggota masyarakat yang tidak masuk dalam kategori miskin pun tiba-tiba ingin disebut miskin gara-gara ingin mendapatkan BLT.

Demikianlah secuil teladan Rasulullah SAW dalam mengatasi kemiskinan (yang saya yakini hanya benar-benar secuil kecil dari banyak teladan-teladan pengentasan kemiskinan lainnya yang tidak terekam dalam riwayat para sahabat). Rasulullah SAW sangat menghargai sisi-sisi positif untuk berkembang yang dimiliki individu. Jadi, jauh sebelum Adam Smith terkagum-kagum dengan penemuannya sendiri dalam the Wealth of Nation, yang menjadi asumsi dasar ideologi liberal klasik (cikal bakal kapitalisme saat ini), bahwa manusia adalah aktor/ individu yang memiliki potensi positif untuk berkembang dan berkreasi jika diberi kesempatan dan kebebasan (dalam hal ini modal dan kebebasan berkreasi), Rasulullah telah dengan sadar melakukannya. Namun, berbeda dengan kaum liberal klasik yang cenderung mengabaikan moral dan nilai, jika moral dan nilai itu ternyata menghambat, Rasulullah tetap menggunakan prinsip-prinsip nilai dan moral yang bersumber dari Al-Qur’an sebagai pembatas antara yang haq dan yang batil.

Wallahu a’lam.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

1 komentar:

Nurhasanah Sidabalok mengatakan...

subhanallah.
sungguh pribadi yang sangat mulia. pemimpin teladan sepanjang sejarah.

Poskan Komentar