Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Minggu, 19 Juni 2011

Perlunya Bertindak (Hasan)


PERLUNYA MENGAMBIL TINDAKAN

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

(QS. Al Qashash [28]: 77)

“Bekerjalah untuk duniamu seolah engkau hidup selamanya,” begitulah kiranya seruan yang disampaikan oleh salah satu al-Aimmah al-Arba’ah Sayyid Ali ra. dalam menyampaikan petuah sekaligus harapannya kepada umat Islam yang ia pimpin. Sayyidina Ali ra. menginginkan agar umat Islam mau bekerja untuk dapat hidup sejahtera hingga ahirnya dapat melaksanakan kewajiban beribadah kepada Sang Pencita dengan baik.

Sebagai seorang Muslim yang berpendidikan tentulah kita faham dengan apa yang disebut teori atau hukum kausalitas yang menjelaskan tentang sebab musabab. Berpijak pada pengertian yang terkandung dalam teori itu maka jikalau kita mendapatkan sesuatu itu adalah hasil dari apa yang kita usahakan atau akibat dari tindakan kita. Kepandaian adalah hasil dari belajar, kebodohan adalah akibat dari malas belajar. Kekayaan adalah hasil dari bekerja, dan kemiskinan adalah hasil dari malas bekerja.

Berkaitan dengan hal itu, belum hilang rasanya kegelisahan dan kesedihan dalam lintas pikiran dan perasaan akan pengemis, pengamen, anak jalanan, dan gelandangan yang menjadi asesoris jalanan ketika kita melintas jalan raya kota-kota di Indonesia. Berita-berita dalam siaran lintas nusantara di berbagai channel TV yang menginformasikan tentang pencurian demi sesuap nasi, anak-anak putus sekolah yang menjadi buruh pabrik, dan berbagai kepelikan yang setiap hari bergulir dan berputar di sekeliling kita. Apa boleh dikata, itulah yang terjadi pada sebagian Bangsa kita, yang jumlah penduduknya tak kurang dari 240 juta dengan notabene mayoritas muslim.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah teori atau hukum kausalitas juga berlaku terhadap apa yang menimpa bangsa kita saat ini? dengan kata lain bahwa kemiskinan yang menimpa sebagian bangsa kita adalah murni kesalahan bangsa kita sendiri yang malas bekerja, malas belajar dan tidak peduli dengan sesama. Naïf rasanya kalau kita tidak mengakui hal itu dan justru mencari kambing hitam.

Bangsa yang Mandiri

Sebagai bangsa yang memperoleh kemerdekaan dengan jerih payah sendiri setelah berjuang dan berperang dengan amat berat, kita mesti ingat petuah yang dsampaikan Bung Karno kepada rakyatnya dalam Hut RI ke-8, 17 Agustus 1953:

Kalau mau hidup harus makan, yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja tidak makan, jika tidak makan pasti mati. Inilah undang-undangnya dunia, inilah undang-undangnya hidup, mau tidak mau semua makhluk harus menerima undang-undang ini. Terimalah undang-undang itu dengan jiwa yang besar dan merdeka, jiwa yang tidak menengadah melainkan kepada tuhan.

Demikianlah petuah sekaligus harapan Bung Karno kepada bangsa Indonesia. Sungguh sebuah petuah yang sarat makna. Bung Karno tak ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa peminta-minta, pengemis, atau pengamen hanya karena sesuap nasi. Bung Karno menginginkan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang giat bekerja, berusaha dan berdoa untuk mendapat kehidupan yang layak.

Usaha Sebagai Upaya

Dengan penuh kepolosan pun kita dapat mencerna bahwa dalam kehidupan ini manusia harus bekerja dan berusaha untuk mendapatkan sekecil apapun keinginannya. Bukankan dalam kaidah ushuliyah dijelaskan:

الاجر باالتعب

“hasil dari sesuatu di ukur dari jerih payahnya.”

Dengan demkkian maka apabila kita tidak melakukan apapun kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Sedikit mengaitkan kaidah di atas dengan kondisi bangsa Indonesia, maka Rakyat Indonesia harus bekerja agar bisa kaya, rakyat Indonesia harus belajar jikalau ingin pintar, rakyat Indonesia mesti berjuang untuk mencapai kesuksesan dan seterusnya. Tidak cukup hanya dengan berpangku tangan tanpa usaha, mengandalkan pemerintah dan bermanja-manjaan, atau bahkan menunggu belas kasihan orang lain yang bukan siapa-siapa.

Lalu mengapakah setelah 63 tahun Indonesia memperoleh kemerdekaan kita masih tertinggal oleh negara-negara lain? Tidak bosankah kita dikucilkan oleh bangsa lain? tidak bosankah kita dijuluki sebagai bangsa yang kerdil? Bahkan oleh negara-negara yang mendapatkan kemerdekaan setelah kita.

Sebagai seorang muslim mari kita tilik kembali potongsn firman Allah dalam QS. Al-Qashas [28]: ayat 77:

Carilah pahala akhirat lewat karunia Allah yang diberikan kepadamu, dan jangan lupa bagianmu dari kehidupan dunia.

Apabila kita menggunakan sedikit kajian tata bahasa dalam memahami ayat tersebut, maka salah satu yang dapat kita pahami adalah Allah menggunakan fi’il amr nahi dalam kata “ولا تنس” yang berarti “janganlah kamu melupakan (kehidupan duniamu).” Dalam kajian ushul fiqih, fi’il amr nahi memiliki fungsi untuk menunjukkan larangan (al-ashlu fi al-nahyi li al-tahriim) hal ini menunjukkan bahwa mengurus kehidupan dunia adalah wajib karena tidak boleh ditinggalkan. Muslim wajib bekerja dan berusaha untuk kehidupan dunianya. Dalam kaidah yang lain disebutkan:

الواجب ما يثاب على فعله و يعاقب على تركه

Wajib adala sesuatu yang bila dipenuhi mendapat pahala dan bila di tinggalkan mendapat dosa.

Jikalau demikian maka apabila seorang muslim bekerja maka ia mendapatkan pahala dan bila dia tidak bekerja maka apakah yang akan ia dapatkan?

Dalam penekanan akan keharusan manusia mengurusi keperluan duniawinya, tidak berarti kemudian kita mengenyampingkan perintah Allah SWT untuk menggarap ladang akhirat, akan tetapi yang perlu digaris bawahi adalah ketika kita memenuhi kebutuhan kita sebagai seorang hamba maka harus kita iringi dengan bekerja. Lagi pula bukankah mencari nafkah juga untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi? Pada akhirnya akan menjadi amal ukhrawi juga? Mari kita pertimbangkan dan langsung beramal, karena semua problem kehidupan tak akan selesai dengan pikiran saja. Mudah-mudahan kita menjadi salah satu dari orang-orang yang mulia dan tidak merugi dengan gemar beramal.

Ikhtitam

Pada bagian akhir ini, meminjam pandangan presiden Amerika Barrack Obama bahwa “perubahan bukanlah slogan yang turun dari langit, akan tetapi perubahan adalah hasil dari pengalaman berpolitik di akar rumput yang bergoyang.” Maka solusi untuk berbagai keterpurukan bangsa ini adalah kita harus bertindak untuk menghasilkan perubahan dari berbagai macam ketidakstabilan di negeri ini menuju kehidupan yang lebih baik. Akhirnya, jika John F. Kennedy mengatakan bahwa “sejarah adalah kebohongan yang disepakati bersama,” maka kenapa kita tidak berbuat baik dengan membuat suatu kebohongan besar untuk disepakati bersama?

Wallau a’lam bisshawab
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar