Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Minggu, 19 Juni 2011

CINTA DAN RASA TAKUT

Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; Sesungguhnya dialah Tuhan yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.”
(Q.S. An-Nahl [16]: 51).

Tidak menyontek ketika ujian, tidak melakukan mark-up anggaran atau laporan keuangan, tidak melakukan pembabatan hutan secara liar, tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan penimbunan bahan makanan pokok dan bahan bakar, menjauhkan diri dari dosa-dosa besar maupun kecil, serta melakukan amalan-amalan kebaikan merupakan sebuah manifestasi dari rasa takut.

Rasa takut kepada Allah adalah salah satu sifat dasar seorang hamba yang beriman. Karena rasa takut kepada Allah mendorong manusia untuk lebih dekat kepada-Nya, membuatnya mencapai iman yang lebih dalam dan memungkinkannya bertanggung jawab kepada Allah di setiap saat dan pada setiap aktivitas yang dilakukan dalam kehidupannya. Kenyataan bahwa akhlak terpuji yang dikehendaki oleh Allah dari hambanya berjalan seiring dengan rasa takut kepada Allah, ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

Takutlah engkau kepada Allah dimana pun kamu berada. Lakukanlah kebaikan segera setelah berbuat dosa untuk menghapus dosa itu, dan selalu berbuat baik dalam hubunganmu dengan manusia (H.R. Tirmidzi).

Jika kita tidak mampu memahami makna sesungguhnya dari rasa takut kepada Allah, maka hal itu akan mencampur-adukannya dengan rasa takut yang biasa kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal rasa takut kepada Allah sangat berbada dengan semua rasa takut yang lain.

Kosa kata bahasa Arab yang dipergunakan dalam naskah asli Alqur’an untuk memvisualisasikan rasa takut kepada Allah adalah “khasyah” yang biasa juga dimaknai mengungkapkan rasa hormat yang teramat luar biasa. Di sisi lain, kosa kata bahasa Arab yang dipergunakan untuk menggambarkan rasa takut duniawi ahalah “khauf” yang mengungkapkan adanya jenis rasa takut sederhana atau tajut instingtif, seperti takut yang dirasakan seorang mahasiswa ketika menghadapi sidang atau pendadaran tugas akhir.

Perenungan sifat Allah akan mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih baik dan lebih mendalam terhadap kedua jenis rasa takut ini, yang keduanya diungkapkan dengan perkataan yang berbeda dalam bahasa Arab. Rasa takut di dunia biasanya disebabkan oleh adanya ancaman. Misalnya saja, takut kehilangan harta, takut disakiti, atau takut dibunuh. Sebaliknya, rasa takut kepada Allah sama sekali tidak menimbulkan rasa terancam dan cemas karena Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta Maha Adil. Rasa takut kepada Allah menyiratkan dan timbul dari perasaan hormat dan pasrah kepada-Nya, menghindari hal-hal yang melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan-Nya.

Implikasi rasa takut yang dimiliki oleh manusia kepada Allah, menjadikan perbedaannya dengan takut pada hal-hal yang bersifat duniawi tampak semakin nyata. Ketika seseorang menghadapi bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya, dia akan dibuat panik dan takut luar biasa karena dikepung oleh keputusasaan dan kehilangan harapan, dia tidak mampu berfikir jernih dan tidak dapat menemukan jalan keluar. Rasa takut kepada Allah, di pihak lain, justru mendorong kebijaksanaan dan keterikatan pada nurani. Melalui rasa takut kepada Allah, seseorang akan termotivasi untuk menghindari segala kejahatan, penyimpangan serta hal-hal lain yang mungkin akan menyebabkan bahaya jasmani maupun rohani terhadap dirinya. Implikasi lebih jauh, rasa takut kepada Allah akan mendorong kepada sikap arif, tawadhu’ dan tawakkal. Dalam Alqur’an, Allah memberi tahu kita bahwa melalui rasa takut kepada-Nya, kearifan dan pemahaman dapat diperoleh.

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu furqaan dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar (Q.S. Al-Anfal [8]: 29).

Rasa takut di dunia menyebabkan manusia cemas. Rasa takut kepada Allah, di pihak lain, tidak hanya meningkatkan kekuatan rohani, tetapi juga ketenangan pikiran yang membawa pada kedamaian jiwa.

Rasa takut kepada Allah, jelas menghilangkan halangan untuk lebih dekat kepada Allah. Penyebab halangan tersebut adalah hawa nafsu. Dari Alqur’an kita belajar bahwa ada dua segi kejiwaan dalam diri manusia, yang satu menyuruh kepada kejahatan dan penyimpangan dan yang lain menuntun kita untuk melawan segala kecenderungan berbuat jahat.

Berjuang melawan kejahatan dan tidak menyerah kepadanya menuntut kekuatan ruhaniah. Kekuatan ini berasal dari rasa takut kepada Allah. Seseorang yang takut kepada Allah secara otomatis tidak akan diperbudak oleh hawa nafsunya. Alqur’an memberitahukan kita bahwa hanya orang yang takut kepada Allah-lah yang akan tunduk pada peringatan yang disampaikan kepadanya.

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia (QS. Yasin [36]: 11).

Manusia harus berusaha keras untuk merasakan dan menghayati rasa takut yang lebih dalam kepada Allah. Agar sifat yang mulia ini bisa tercapai, manusia harus merenungkan ciptaan-ciptaan Allah dan mengakui cita rasa seni-Nya yang agung serta kekuasaan yang ditunjukkan dalam setiap perincian ciptaan-Nya. Maka untuk itu Allah memerintahkan kita dalam firman-Nya:

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung (Q.S. at-Taghaabun [64]: 16).

Semakin takut seorang hamba yang beriman kepada Allah, maka secara otomatis akan semakin besar rasa cintanya kepada Allah. Dia akan semakin mengetahui betapa indahnya ciptaan-ciptaan Allah. Dia memperoleh kemampuan untuk mengenal segala sesuatu di balik apapun yang ada di sekitarnya, sebagai pencerminan sifat Allah yang agung. Akibatnya, dia akan merasakan cinta yang lebih dalam atas berkah tersebut, juga kepada Allah.

Seseorang yang memahami rahasia ini juga mengetahui makna cinta yang sesungguhnya kepada Allah. Dia mencintai Allah di atas segalanya, dan meyakini bahwa seluruh makhluk yang berada di jagad raya adalah ciptaan-Nya.

Cinta sejati yang akan membuat manusia bahagia, memberinya kebahagiaan dan rasa damai, adalah cinta kepada Allah SWT. Adapun bentuk cinta lain yang dirasakan kepada sesuatu selain Allah, di dalam Alqur’an disebut sebagai cinta yang biasa dirasakan oleh orang-orang kafir yang akan selalu mengarah pada rasa sedih, pedih, gundah, cemas, dan dengki.

Wallahu a’lam.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar