Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Minggu, 19 Juni 2011

HAKIKAT FITRAH

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari rahim mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

(Q.S. al-A’raf [7] 172).

Dalam Alqur’an, kata fitrah berasal dari kata fathara. Fitrah mengandung arti “yang mula-mula diciptakan Allah”, “keadaan yang mula-mula”, “yang asal”, atau “yang awal”. Jika melihat firman Allah dalam surat al-An’am ayat 79, sebuah surat yang sangat dikenal karena sering dilafadzkan dalam pembukaan shalat, sebelum membaca al-Fatihah, yang bunyinya adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. al An’am [6]: 79).

Kata fitrah dalam konteks ayat ini (fathara) dikaitkan dengan pengertian hanif, yang jika diterjemahkan secara bebas menjadi “cenderung kepada agama yang benar”. Dari pengertian tersebut, timbul suatu teori, bahwa agama umat manusia yang paling asli adalah menyembah kepada Allah. Dan disinilah sejatinya letak fitrah manusia. Disebutkan dalam Alqur’an surat al-A’raf ayat 172, bahwa fitrah manusia ditandai dengan perjanjian manusia dengan Allah segera setelah manusia diciptakan:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari rahim mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (Q.S. al-A’raf [7] 172).

Memang, tidak selamanya manusia tetap dalam ikatan perjanjian dengan Allah sebagaimana tergambar dalam surat al-A’raf itu. Manusia juga memiliki potensi negatif, sebagaimana firman Allah SWT: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (Q.S. Asy Syams [91]: 8). Seiring perkembangan usia dan pergaulannya, manusia hampir selalu menodai perjanjian itu atau bahkan memutuskannya. Pada kondisi seperti inilah manusia sebenarnya telah jauh dari ajaran-ajaran agama, karena lebih memberati dorongan nafsu, dorongan-dorongan untuk melakukan kejelekan dan kemaksiatan. Manusia lupa akan fitrahnya, lupa akan asal mulanya, lupa dengan janjinya kepada Allah.

Secara nyata dapat kita lihat tipe manusia seperti ini dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin yang sewenang-wenang dan menindas, pejabat yang korup, pengusaha yang serakah, pegawai yang tidak disiplin, pedagang yang curang, tetangga yang selalu menggunjing dan seterusnya. Bahkan mungkin kita pernah melakukan hal-hal tersebut. Itu adalah gambaran nyata dalam kehidupan kita, bagaimana manusia lupa dengan fitrahnya. Sudah menjadi sunnatullah, di saat manusia memutus hubungan dengan Allah, maka ia akan pula memutus hubungan dengan sesama manusia dan akan berbuat yang merusak tatanan alam semesta, dan pada akhirnya ia termasuk golongan manusia yang merugi. Seperti tampak dalam firman-Nya surat al-Baqarah [2] ayat 27:

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka), dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi. (Q.S. al-Baqarah [2]: 27)

Ibadah Ramadhan yang telah kita jalani sebulan penuh, adalah sarana untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah. Pada saat kita berpuasa, yang menjadi ukuran apakah puasa kita diteima atau tidak, sah atau tidak di mata Allah, bukanlah tergantung seberapa mampu kita menahan lapar dan dahaga, melainkan tergantung pada apakah kita menjalankan dengan iman dan keyakinan kepada Allah atau tidak. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Berapa banyak orang yang puasa, tetapi tidak mendapat pahala apapun dari puasanya itu, kecuali lapar dan haus saja”

Seperti yang sudah disampaikan di muka, bahwa pengertian fitrah terkait dengan pengertian hanif. Manusia yang sudah kembali menemukan fitrahnya, ia akan terkondisikan untuk menjadi hanif. Kata hanif berasal dari kata kerja hanafa, yahnifu dan masdarnya hanifan, artinya adalah “condong”, atau “cenderung” dan kata bendanya “kecenderungan”. Dalam Alqur’an, kata hanif yang dimaksud adalah “cenderung kepada yang benar”, seperti dijelaskan oleh mufassir modern, Maulana Muhammad Ali, merujuk kepada kamus Alqur’an al-Mufradat fi al-gharib, secara lengkap menjelaskan pengertian hanif sebagai berikut:

1. Orang yang meninggalkan atau menjauhi kesalahan dan mengarahkan dirinya kepada hidayah Allah,
2. Orang yang secara terus menerus mengikuti kepercayaan yang benar tanpa keinginan untuk berpaling dari padanya,
3. Orang yang cenderung menata perilakunya secara sempurna menurut Islam dan terus menerus mempertahankannya secara teguh,
4. Seseorang yang mengikuti agama Ibrahim, maksutnya adalah Tauhid,

Setelah orang selalu tertambat hatinya kepada kebenaran (hanif) dan menolak dengan keras segala bentuk penentangan dan persekutuan terhadap Allah, ia tentu ia akan meneladani Rasulullah dalam perjuangannya membebaskan umat Islam dari penindasan, kebodohan dan kemiskinan.

Muslim yang peduli dengan nasib kaum miskin, bodoh dan terbelakang dengan menyantuninya sepenuh hati, adalah penjelmaan manusia fitri yang hanif. Merekalah yang disebut rausanfikr, yaitu muslim tercerahkan yang peduli dengan nasib umat. Seperti sindiran Allah dalam Alqur’an surat an-Nisa’ [4] ayat 75:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anakanak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!

Rausanfikr (muslim tercerahkan) harus tercipta dalam diri kita masingmasing. Kita tidak boleh masa bodoh atau tidak peduli (cuek) dengan persoalan di sekitar kita. Kepedulian pada persoalan ummat akan mendorong kita menuju sebuah keshalehan sosial yang sangat ditekankan oleh Islam. Islam tidak saja mengajarkan keshalehan individu (taat pada perintah ibadah mahdhah), tetapi juga keshalehan sosial atau bahasa agamanya adalah ihsan (orangnya: muhsin/muhsinun), yaitu kegemaran pada amal shaleh. Allah berfirman dalam surat an-Nisa’ [4] ayat 125:

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

Semoga kita termasuk dalam golongan hamba yang berhasil kembali kepada fitrah. Amin.

Wallahu a’lam.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar