Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Jumat, 01 April 2011

S U K A D U K A P A R A R O S U L

وَتَوَكَّلْ عَلىَ الْحَيِّ الَّذِى لاَ يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِه وَكَفى بِه بِذُنُوْبِ عِباَدِه خَبِيْرًا
﴿ الفرقان (25) : 58 ﴾
Dan bertawakallah kepada Allah yang maha hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-Nya, (QS. (25) Al Furqan :58)

Tanah di cangkul bermaksud tani hendak bertanam tebu
Terkejut tani, oh didalam tanah ternyata banyak batu-batu
Batu disingkirkan, harapan tanaman dapat tumbuh bermutu
Begitulah Rosul membawa ummat agar hidup selaras wahyu
Setiap kupasan wahyu, ternyata membongkar buruknya nafsu
Disingkirkan nafsu, agar dapat terbuka kejernihan qalbu

Letih dan lelah tani mencangkul tanah tidaklah mengapa
Sampai pada saatnya benih ditabur, tunaspun terbuka
Penuh ketekunan menjaga tunas dari serangan serangga
Letih dan lelah para Rosul membimbing ummat tak dirasa
Ditaburi benih wahyu, agar potensi terbenam dapat terbuka
Terbuka potensi, awas waspada terhadap pihak penggoda

Hati insan yang mana yang tidak merasa senang dan bahagia melihat hamparan hijau yang subur makmur akan tanaman hasil bumi. Tetapi adakah terpanggil hati masing-masing mata memandang untuk menghargai dengan layak jasa baik yang telah dikeluarkan oleh sang penanam dengan suka dan duka. Memang setiap tanaman menghasilkan buah yang baik jarang bahkan tidak pernah terfikirkan siapa sebenarnya penanam yang telah berhasil itu, lain halnya bila tanaman menghasilkan buah yang buruk dengan seketika ketidak-becusan diarahkan pada sang penanam atau petani. Begitu pula dalam kehidupan ini betapa banyak kemurahan dan kebaikan yang telah Allah berikan kepada manusia, tetapi pernahkah hati manusia terpanggil untuk menghargai jasa baik yang telah Allah berikan padanya? memang Allah dalam berbuat apa saja tidak pernah mengharap balasan kebaikan dari manusia, tetapi dengan sifat Allah yang demikian itu, apakah ia tidak akan tumbuh setitik kesadaran untuk berbuat baik kepada Allah. Meskipun sampai kapanpun manusai tidak akan pernah dapat mengimbangi kebaikan Allah, ini bukan berarti bahwa manusia tidak perlu berbuat baik atau menghargai kebaikan Allah namun sadarilah kebaikan yang diperbuat manusia sebenarnya akan kembali kepada dirinya. Lain halnya bagi hati yang telah mati karena terkekang nafsu sampai kapanpun tidak akan melihat kemurahan dan kebaikan Allah, justru setiap ada kegagalan, kesulitan dan penderitaan akan dinyatakan sebagai sikap Allah yang tidak maha kasih terhadap dirinya.

Demikian itulah bila hati telah menjadi mati tidak pernah dapat dan tepat memahami setiap kenyataan yang terjadi termasuk kenyataan yang ada pada dirinya sendiri. Sebab hati yang telah mati memang memiliki jangkauan yang sangat terbatas dalam memahami kenyataan apalagi memahami suatu isyarat. Maka sebagaimana sulit dan letihnya para petani mencangkul tanah, menabur benih merawat dan menjaga tunas hingga tiba saat memetik buah. Demikian pula sebenarnya sulit dan letihnya para Rosul utusan Allah dalam mengarahkan dan menata hidup dan kehidupan ummat menjadi lurus menuju hidup selamat. Karena sipapun manusianya pasti dalam hidup ini yang hendak dituju adalah hidup berhasil dengan selamat. Demikian Allah juga paling tidak suka bahkan Allah sangat benci melihat manusia hidup penuh diliputi kegagalan, kesulitan dan penderitaan. Sebab Allah mencipta manusia bukan untuk dipersulit jalan hidupnya, justru Allah mencipta manusia untuk memberikan segala kemudahan hidup kepada manusia. Jika Allah mencipta manusia memang untuk dipersulit, tidak perlu para Rosul diutus dan bumi tidak perlu dilengkapi dengan berbagai perbekalan hidup. Jelaslah sudah bahwa Allah mencipta segala sesuatu di muka bumi ini adalah dalam rangka memberikan kemudahan hidup bagi manusia. Pertanyaan mengapa kenyataan banyak manusia hidup dililit kesulitan? ini semua tidak lain disebabkan karena kesombongan manusia yang suka membuat konsep keberhasilan dan keselamatan menurut pandangan nafsu. Padahal belum tentu konsep keberhasilan dan keselamatan yang dibuat nafsu dapat bersesusain dengan unsur lainnya yang ada dalam diri manusia itu sendiri, seperti ruh , rasa, hati dan aqal.

Sebenarnya manusia hidup ini tidak perlu bersusah-payah untuk membuat berbagai macam konsep keberhasilan dan keselamatan hidup, karena Allah telah memberikan konsep keberhasilan dan keselamatan hidup yang dapat berlaku sepanjang zaman, konsep itupun telah dituangkan rapi di dalam Al-qur’an dan Al-hadist. Hanya saja proses yang perlu dipertanyakan ialah maukah manusia menselaraskan dirinya dengan konsep yang telah Allah buatkan? Disinilah letak permasalahannya, sebab sebagaimana yang dikatakan diatas banyak manusia yang masih suka menandingi kekuasaan Allah. Salah satu bentuk tandingan adalah membuat konsep hidup yang sebenarnya konsep hidup yang telah tersusun rapi itu Allah turunkan kepada para Rosul-Nya. Demikian itulah sekilas gambaran betapa berat para Rosul dalam meluruskan perjalanan ummatnya, namun sebagaimana para petani kesulitan dan keletihan tidak pernah dirasa. Harapan yang disimpan dibalik hati seakan penawar keletihan dan kesulitan. Apalagi disaat benih mulai memunculkan dan mengeluarkan tunas dan mengeluarkan buah. Dapatlah direnungkan bersama sebagaimana sang petani tidak akan letih dan lelah? Saat benih mengeluarkan tunas, Ulat tak henti-hentinya mencoba menyerang, begitu juga disaat berbuah seranggapun datang menyerang silih berganti. Disinilah kerja keras petani menjaga dan merawat tanamannya dari gangguan serangga. Namun keletihan dan kelelahan tak pernah dirasa oleh petani, asalkan tanamannya tumbuh berbuah baik. Apa yang terjadi setelah tanaman berbuah baik? Banyak mahluk yang menggemarinya terutama manusia digunakan untuk kesegaran dan pelepas dahaga.

Demikian kenyataan setelah tanaman berbuat baik, bukan sang petani yang mendapatkan nama tetapi buahlah yang mendapat nama dan nilai tinggi dari penggemar atau pembeli. Sekalipun petani telah bersusah payah menjaga dan merawat tunas Sejak dari mencangkul, menabur benih, menjaga dan merawat tunas hingga muncul buah, Namun begitu petanipun hilang tersembunyi menyimpan bahagia. “Dengan kata lain B U A H mendapatkan nama dan nilai tinggi, sedangkan petani hilang tersembunyi dibalik buah ternama menyimpan bahagia”. Kehidupan para petani dengan tanamannya tidaklah berbeda jauh dengan kehidupan para Rosul dengan ummatnya. Betapa sulit dan lelahnya para rosul menata kehidupan ummatnya agar memperoleh kehidupan yang diwarnai keselamatan dan kebahagian haqiqi. setiap langkah ummat selalu diupayakan agar selaras dengan tuntutan wahyu. apapun rintangan dan halangan selalu dihadapi dengan gigih. tidak peduli : “ apakah dirinya menjadi sasaran ejekan dan cemoohan bahkan tidak sedikit fitnah dilemparkan pada dirinya, yang penting ummat dapat diselamatkan dengan meraih bahagia”. Buah derita perjalanan hidup para Rosul adalah keselamatan dan kebahagiaan bagi ummat. Karena hidup dan kehidupan para Rosul hanya diperuntukan pada ummat. Demikian besarnya perhatian para Rosul akan keselamatan dan kebahagiaan ummat, tetapi tidak sedikit ummatnya yang menyambut dengan ejekan atau cemoohan baik dengan kata-kata, bahkan adapula yang dengan sikapnya dan inilah yang paling berbahaya, karena secara kata-kata seakan mereka adalah ummat yang setia pada Rosul, namun jika diperhatikan dengan teliti, tampaklah pada sikap kurang menaruh perhatian. Bukankah sikap demikian sama halnya dengan sikap orang-orang munafik? tidak jarang para Rosul sedikit kecewa dengan sikap ummatnya yang tidak bersungguh-sungguh, tetapi Allah tidak menghendaki para kekasih-Nya kecewa, maka Allah menghibur mereka dengan firman-Nya QS 25:56

وَمآ أَرْسَلْنكَ إِلاَّ مُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا ﴿ الفرقان (25) : 56 ﴾
Dan tidaklah kami mengutus kamu hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS. (25) Al furqan : 56)

Dengan turunnya firman Allah tersebut cairlah seluruh kekecewaan hati para Rosul dalam menghadapi ummat yang begitu sangat sulit untuk diarahkan lurus wahyu.

Demikian itulah rumitnya para Rosul membimbing ummatnya. Kalau tidak ada kesabaran yang utuh ditanamkan Allah kedalam hati para Rosulnya bisa jadi ummat akan ditinggalkan begitu saja sebagaimana yang pernah dialami oleh Nabi Yunus A.S. Dari itu dapatlah kita memperoleh pemahaman atas kehidupan Rosululloh Muhammad S.A.W yang bekerja menggembala ternak ketika masih kecil. Hal ini merupakan simbol bahwa, meluruskan nafsu itu harus dimulai Sejak masa kanak-kanak dan membutuhkan kesabaran. Rumitnya meluruskan dan membimbing nafsu manusia ternyata tak jauh berbeda dengan sulitnya menggembalakan ternak, kambing khususnya. Pada sisi lain sekelumit kehidupan Rosulullah S.A.W pada masa kanak-kanak itu juga menyadarkan diri kita selaku manusia betapa banyaknya makna simbolik dari peri kehidupan rosul baik ucap maupun sikap dan perbuatannya yang mengandung butir-butir keilmuan murni yang luas dan dalam untuk kehidupan bersemesta. Sangat disayangkan bila selama ini hal semacam itu hanya dipandang sebagai serangkaian peristiwa atau sejarah saja. Akibatnya ummat islam tidak pernah mengkaji makna simbolik dibalik setiap ucap kata, sikap dan perbuatan Rosulullah S.A.W. Akan halnya kebodohan manusia tercermin dari sikap mereka. Rosul datang dengan membawa kabar gembira, memberi petunjuk jalan menuju hidup selamat dan bahagia malah disambut dengan cemoohan dan mengejek, Rosulpun memberi peringatan tetapi ternyata keduanya disambut dengan sikap acuh tak acuh. Sikap demikian itu tidak bedanya dengan Rosul Muhammad S.A.W sewaktu menggembala ternak, telah ditunjuk tempat makanan / rumput yang segar, malah berpaling dari tempat yang ditunjuk, maklumi saja memang hewan ternak tidak beraqal.

Dapatlah dirasakan betapa beratnya menggembala ternak hewan, ditarik ke depan, malah menahan-nahan jalan atau membelok-belok jalan, digiring dari belakang kotoran yang dibuang. Memang demikianlah pekerjaan para Rosul menuntun dan mengangkat kotoran adalah pekerjaan rutin yang harus dikerjakan. Pernahkah pekerjaan begitu berat yang dikerjakan para Rosul disadari ummatnya? Hanya sedikit dari ummatnya yang setia dalam arti sikap terhadap Rosul. Memang sangat sulit bagi manusia berlogika tinggi untuk menyadari, apalagi merasakan kesulitan dan keletihan para Rosul, menuntun ummatnya menuju kehidupan selamat. Jika ummatnya bisa merasakan kesulitan dan keletihan para Rosul menuntun ummat, maka pemunculan dari rasa tersebut adalah lebih mencintai rosul daripada mencintai dirinya sendiri. Bukti lebih mencintai Rosul tampak pada sikap, tidak pernah setiap ajakan Rosul diingkari dan dikhianati. Tetapi bagaimana dapat muncul rasa mencintai Rosul, jika logika masih menjadi raja dalam diri. Sedangkan buah paling menonjol dari logika adalah lebih mencintai kepentingan dan kepuasan diri. Logika inilah yang melunturkan ummat untuk mencintai Rosulnya. Sekalipun para Rosul tidak sedikit dihujam kesulitan dan keletihan menuntun ummat, Namun para Rosul tidak pernah meminta imbalan apalagi belas kasih. Satu yang menjadi harapan para Rosul adalah kepatuhan orang-orang atau ummatnya yang mau mengambil jalan kepada Robbi.

قُلْ مَآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلاَّ مَنْ شَآءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيْلاً ﴿ الفرقان (25) : 57 ﴾

Katakanlah : “aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan rísalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan lepada Robbnya (QS. 25:57)

Keberadaan Nabi / Rosul hanya menanamkan iman kepada kita tanpa kita dapat membalas jasanya. Oleh karena itu salam dan sholawat kita unjukan bagi Rosulullah S.A.W. yang telah memperjuangkan iman untuk kita agar tetap berada dalam garis keselamatan dan kebahagiaan hidup yang berkekalan. Allah dan Malaikat bersholawat untuk nabi sebagaimana firma-Nya :

اِنَّ اللهَ وَمَلئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ﴿ الاحزاب (33) : 57 ﴾

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. (33) Al Ahzab :56)

Sejak kandungan anak ditimang dan dikasih sayang
Harapan bunda kelak jadi anak orang yang terpandang
Kandas harapan ternyata anak jadi orang penantang
Dicipta-Nya manusia, Allah cinta dengan kasih sayang
Allah iringi Qur’an dan Rosul agar hidup menjadi menang

Wahai Allah wahai Robbi tempat diri gantungkan harapan
Dengan penuh kasih sayang Kau entaskan kami dari kenistaan
HARUSNYA KAMI BERSYUKUR, TERNYATA INGKAR JUA DILAKUKAN
Rahmat dan kebaikan Kau kucurkan, sikap kami melecehkan
Demikianlah sikap manusia, terbiasa dengan kesombongan
Ampunilah kami ya Robbi, diri Belum dapat bertanam kebaikan
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar