Slide Cahaya - Hati

Nurul Qolby 1234567 Slideshow: Nurul’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 3 cities , Bangladesh and Indonesia (near Benteng, Selayar Island) was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-009b-86da-4384

Minggu, 19 Juni 2011

TADARUS Bai’at Pertaman Di Alam Roh

Bai’at pertama itu adalah janji anak manusia kepada Penciptanya. Saat itu manusia masih berada di alam ruh, sebelum ditiupkan ruhnya dalam janin di rahim seorang ibu. Di saat kondisi anak Adam masih bersih (fitrah) sesuai takdir yang ditetapkan Sang Pencipta. Saat lembaran hidupnya masih putih bersih dan sedikitpun belum tergores oleh satu apapun, kemudian Allah memasukkan ilmu (pengenalan) yang datang langsung dari urusan-Nya, bahwa Allah adalah Robb (Tuhan)nya. Lalu anak-anak manusia itu menjawab: "Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi". Itulah kalimat syahadat pertama yang diucapkan manusia langsung di hadapan Allah SWT.

Merupakan “ilmu rasa” yang pertamakali dimasukkan Allah dalam memori khazanah keilmuan manusia. Dengan pengenalan itu, maka jadilah setiap kelahiran anak manusia pasti membawa pengertian bahwa dirinya ada yang menciptakan. Oleh sebab itu, meski manusia tinggal di tempat sangat terpencil, pasti cenderung mencari siapa Tuhan Penciptanya. Kecuali orang yang memang matahatinya terlanjur buta karena tertutup oleh rasa ingkar dan penyakit hati yang belum mampu disembuhkan.

Perjanjian pertama itu sesungguhnya merupakan “ilmu hakekat” yang pertama kali dimiliki anak manusia. Namun karena masuknya ilmu hakekat itu langsung secara ruhaniah, maka keberadaannya harus dilengkapi dengan ilmu syari’at. Untuk tujuan inilah Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta menurunkan kitab-kitab samawi di muka bumi, supaya manusia yang secara naluriah sudah mencari Tuhan itu benar-benar dapat menemukan Tuhan yang sebenarnya.

Apabila “ilmu hakekat” itu tidak dilandasi ilmu syari’at yang diajarkan para Nabi yang kemudian dilanjutkan oleh para Ulama’ pewaris Nabi, maka kecenderungan orang mencari tuhan itu seringkali terjebak dengan imajinasinya sendiri. Mengikuti mitos yang hanya didasari persangkaan kosong tanpa dalil dan bukti. Akibatnya, bintang, bulan matahari, pohon, batu, gunung, api, dan bahkan bagian anggota tubuhnya sendiri dipuja dan disembah, dikira itu tuhan mereka. Keadaan seperti itu telah digambarkan Allah melalui peristiwa terjadinya proses keyakinan dalam hati Nabi Ibrahim AS melalui firman-Nya:

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin - Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam" - Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat" - Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan - Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. al-An’am; 75-79)

Ayat di atas merupakan ungkapan yang sangat luar biasa, hanya wahyu yang mampu menungkapkan, ilustrasi pengembaraan ruhaniah manusia melalui kemampuan rasional disaat melihat tanda-tanda yang betebaran di alam semesta. Apabila manusia mampu mencermatinya, maka akan menemukan Tuhannya seperti yang pernah ditemukan Nabiyullah Ibrahim AS.

Adapun perjanjian pertama tersebut diabadikan Allah dalam firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku adalah Tuhan-Mu", dan dia saat itu telah menjawab: "Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lupa terhadap (persaksian) ini.” (QS. al-A’raaf; 7/172)

Ketika peristiwa yang terjadi di alam ruh itu dibeberkan secara ilmiah dengan Firman-Nya, maka berarti dengan ayat ini Allah tidak sekedar memberi kabar akan siapa sesungguhnya “Tuhan manusia” itu, namun juga menegaskan bahwa sebelum manusia dilahirkan ibunya di dunia, sesungguhnya telah melaksanakan bai’at kepada Tuhannya – “Bukankah Aku adalah Tuhan-Mu", dan dia saat itu telah menjawab: "Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi". Dengan perjanjian itu, supaya di hari kiamat manusia tidak bisa mengingkari dan berkata: “Sesungguhnya kami orang-orang yang lupa terhadap (persaksian) ini.”

Sungguh ini merupakan bagian keajaiban al-Qur’an al-Karim, rahasia kejadian di alam gaib dari lembar perjalanan hidup anak manusia telah dikuak. Dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya di alam ruh itu, peristiwa itu bukan sekedar perkenalan antara seorang hamba dengan Tuhannya saja, namun juga penegasan, bahwa Sang Pencipta dan Sang Pemelihara alam semesta ini adalah Allah SWT. Dengan ayat ini seharusnya manusia tidak ragu lagi, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah Ta’ala.

Namun ternyata, bahkan dari sebagian orang yang mengaku beriman saja ada yang mengingkari peristiwa ghaib tersebut, mereka berkata: “Itu hanya klem al-Qur’an. Sesungguhnya bai’at itu tidak pernah ada, buktinya tidak seorangpun ingat peristiwa tersebut”. Orang yang mengatakan seperti itu barangkali karena rongga dadanya gelap gulita sehingga matahatinya buta yang menyebabkan hatinya menjadi ingkar kepada Tuhannya. Hal itu, karena mereka tidak bisa membedakan mana yang harus diketahui dan mana yang harus diimani.

Ilmu pengetahuan manusia semestinya tidak mengadakan observasi terhadap hal gaib yang dikabarkan oleh wahyu, karena arena akal tidak mungkin dapat mencapainya. Terhadap apa-apa yang disampaikan oleh wahyu tersebut manusia hanya wajib beriman, karena iman itu dirasakan dengan hati bukan dengan akal. Namun iman ini merupakan hidayah azaliah yang jika manusia tidak mendapatkan berarti akan berada di dasar jurang kekufuran kepada Tuhannya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (6) خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman - Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”(QS.al-Baqoroh/ 6-7)
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

BERBAGI BERBUAH NIKMAT


Barang siapa berbuat kebaikan, dia mendapat balasan sepuluh kali lipat. Barangsiapa yang berbuat keburukan tidak akan dibalas, kecuali sebanding dengan kejahatannya itu. Dan mereka sama sekali tidak terdzalimi”

(QS. Al-An’aam [6]: 160)



PERNAH mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada seorang imam yang diberitahu oleh pembantunya bahwa mereka hanya memiliki sepotong roti. Tentu saja roti tersebut tidak cukup untuk dibagi berdua. “Jadi, roti ini enaknya diapakan, Tuan?” tanya si pembantu. Saking laparnya, pembantu itu berharap tuannya mau merelakan roti itu untuk dimakannya sendiri.

Ternyata tidak. Sang imam malah menyuruh si pembantu untuk memberikan roti tersebut kepada tetangga mereka. Pikir imam, ada orang yang lebih membutuhkan. Wajah si pembantu tampak kecewa. Imam itu lalu menghiburnya, “Sudah tenang saja. Allah punya janji yang lain. Kalau kita berkenan membantu orang lain, Allah pun akan membantu kita.” Kata imam lagi, “Kalau roti ini kita bagi berdua, maka kita hanya kebagian sebelah-sebelah. Tidak kenyang. Kalau dimakan salah seorang dari kita, maka salah satu dari kita pasti ada yang tidak makan.”

Akhirnya, si pembantu pun keluar mencari tetangga yang kelaparan. Di saat imam sendirian di rumah, datanglah enam orang bertamu. Imam tahu bahwa dia tidak memiliki apa pun untuk disuguhkan pada enam tamunya tersebut. Tapi, ia tahu bahwa dirinya sudah bersedekah. Dan Allah akan mencukupkan rezeki bagi siapa saja yang mau bersedekah. Begitu yang imam yakini.

Tidak berapa lama kemudian, setelah si pembantu kembali ke rumah, datang pula seorang tamu lagi. Ia tidak masuk ke dalam rumah. Ia hanya berdiri di depan pintu. “Imam, saya membawa hadiah roti buat imam dan pembantu imam,” katanya.

Imam lalu melihat hadiah roti itu. Cuma dua potong. Sang imam tersenyum. Mungkin tamu tersebut cuma tahu bahwa penghuni rumah itu hanya dua orang. “Maaf,” kata imam, “saya tidak bisa menerimanya. Roti ini salah alamat.”

“Tidak imam, tidak salah alamat. Memang roti ini untuk Anda dan pembantu Anda,” ujar si pembawa roti.

“Maaf, saya tidak bisa menerima. Sudah ya, saya ada tamu,” kata imam itu.

Si pembawa roti ini tentu saja bingung. Kenapa imam menolak? Rupanya, ia sempat melihat ke dalam rumah imam. Benar memang, di dalam ruangan sedang banyak tamu. “Oh, mungkin imam menolak sebab tamunya memang banyak. Kalau roti ini dia terima, tidak cukup untuk dibagikan dengan tamunya,” pikirnya.

Lalu orang itu kembali pulang. Ia menambahkan jumlah hadiah roti itu hingga genap sepuluh potong. Di depan rumah imam, orang itu berkata, “Maaf, imam. Kali ini, pasti tidak salah alamat.”

Sang imam kembali memperhatikan isi baki tersebut. Ia melihat ada sepuluh potong roti. “Ya, sekarang tidak salah alamat,” ujarnya.

Imam pun menyuguhkan roti itu buat keenam tamunya. Ia juga memanggil pembantunya untuk ikut bersama-sama menikmati roti tersebut. Tidak lupa ia juga makan satu potong. “Lihatlah,” kata imam kepada pembantunya, “Sekarang engkau saksikan, kita malah punya sisa dua roti. Enam tamu kita kenyang, kamu kenyang, dan saya pun kenyang.”

Begitulah cara Allah untuk mengganti sepotong roti yang telah disedekahkan sang imam pada orang lain. Tidak tanggung-tanggung, satu potong roti berbalas sepuluh. Itu merupakan pengganti dari Allah bagi orang yang mau berbagi. Karena berbagi merupakan salah satu ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah kita peroleh. Tampaknya, demi melihat kekurangan dan kesulitan kita, langkah berbagi atau bersedekah menjadi layak untuk lebih diperhatikan.



Memahami Hakikat Berbagi

Don’t ask what your country can do for you, ask what you can do for your country. Kata-kata sakti John F Kennedy ini tentu tidak asing. Tetapi dalam konteks ini, saya tidak sedang bicara politik. Saya cuma ingin menganalogikan ungkapan tersebut untuk memahami hakikat berbagi. Kata-kata itu bisa dibaca begini: “Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan orang lain kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang akan kau berikan kepada orang lain.”

Dalam hitungan manusia, satu dikurang satu sama dengan nol atau habis. Sayangnya, hitung-hitungan ini terbawa saat kita berbagi atau bersedekah. Bahwa kalau kita punya satu, kemudian yang satu itu kita sedekahkan pada orang lain, maka kita tidak akan memiliki apa-apa lagi. Logis memang. Namun, tidak demikian dengan matematika sedekah. Allah punya hitungan lain. Dia yang Maha Pemurah akan membalas sepuluh kali lipat harta yang disedekahkan seseorang, sebagaimana Dia membalas kebaikan apa pun sepuluh kali lipat kebaikan dari-Nya. Tentunya harus didasari keimanan. Maha Benar Allah dalam firman-Nya:

“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dirugikan.” (QS. Al-An’aam [6]: 160)

Selain balasan tersebut, berbagi juga dapat membentuk kepribadian yang penuh empati terhadap penderitaan orang lain, sehingga menumbuhkan kepekaan sosial (social sensitivity). Seperti pada tayangan reality show ‘Toloong!!’ pada salah satu stasiun televisi swasta yang mampu membuat saya terharu. Namun, tidak semua pemberian itu berbuah nikmat. Hanya orang-orang yang memberi dengan hati yang ikhlas, tanpa mengharapkan nama harum, apalagi sanjungan yang dapat memetik kenikmatan dari perbuatannya. Rasulullah SAW bersabda:

“Allah mengkhususkan pemberian kenikmatan-Nya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya) untuk kepentingan manusia maka Allah akan melestarikannya. Namun bila tidak, maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada orang lain.” (HR. Athabrani dan Abu Dawud)



Berbagi Tak Harap Kembali

Berbagi memang perbuatan mulia. Agama manapun memberi tempat terhormat pada orang yang mau berbagi atau berderma. Begitu agung perilaku berderma sehingga Islam banyak memberi tuntunan dalam soal ini. “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” begitu sabda Nabi SAW. Nafkahkanlah sebagian hartamu dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dermawan itu dekat kepada Allah dan dekat dari surga, dan sebagainya. Perilaku dermawan dijadikan buah bibir. Namun, mengapa semangat berbagi pada umumnya belum terwujud dalam perilaku kita sehari-hari? Pertanyaan ini muncul dari kenyataan bahwa egoisme dan individualisme masih bahkan makin berkembang di tengah masyarakat.

Selalu berbuat baik tanpa pamrih memerlukan sikap mental yang bertolak belakang dengan kebiasaan orang zaman sekarang. Mungkin banyak di antara kita tergerak berbuat kebajikan karena alasan-alasan tertentu yang tujuannya untuk kepentingan diri juga. Kita mau memberikan sesuatu, asal kita juga mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, entah itu dalam bentuk materi atau lainnya. Padahal, nilai tertinggi suatu amal ada pada keikhlasan. Sedikit saja ada niat meninggikan nama pribadi atau pamrih, maka pada saat itu sudah terjadi riya. Dan, semua orang mengerti, amal yang disertai riya menjadi berkurang bobotnya.

Secara psikologis, berbagi itu amalan yang menggembirakan. Bukan hanya menggembirakan yang diberi, melainkan juga yang memberi. Berbagi dapat memberi kepuasan pada diri sendiri. Ada perasaan bangga karena dapat berbuat baik pada orang lain. Perasaan seperti itu tentu saja sangat manusiawi, meskipun konsep ikhlas mengajarkan yang sebaliknya. Maka, kita mesti introspeksi dan mawas diri: apakah kita sungguh-sungguh ikhlas ketika berbagi?

Rentetan musibah bencana alam yang susul-menyusul menimpa beberapa daerah di tanah air, sepantasnya dapat menggugah kesadaran kita untuk mau berbagi dengan para korban hingga mereka mendapatkan kembali kehidupan yang normal. Mereka mengharapkan uluran bantuan yang tidak sedikit. Tidak ada ruginya menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu mereka. Berbahagialah, karena memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, ibarat meminjamkannya kepada Sang Khaliq. Suatu saat, Allah pasti mengembalikannya plus ‘bunga pinjaman’. Alangkah indahnya firman Allah berikut ini:

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 265)

Nah, saatnya meluruskan niat semata-mata mengharap ridha-Nya. Nenek saya pernah berkata, “Bila kita rela berbagi dengan orang lain tanpa mengharap apa-apa, maka segala kekurangan itu pasti akan menjadi berkah bagi kita.” Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi setiap kesulitan kita, dan menganugerahkan kecukupan bagi beragam kekurangan yang kita rasakan. Amiin.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

BELAJAR TENTANG KEMATIAN


Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Al-Jumu’ah [62]:8)
Prolog

Banyaknya musibah yang terjadi di tanah air hingga saat ini tak pelak telah menyebabkan kerugian serta kehancuran yang luar biasa. Kerugian materi tentu sangat banyak sekali, begitu pula kerugian non-materi seperti kehilangan keluarga dan orang-orang yang dicintai. Mereka juga mengalami trauma yang mungkin akan terus terekam dalam ingatan. Belum lagi beratus-ratus ribu manusia yang akhirnya harus mengungsi dan meninggalkan rumah mereka karena rentetan bencana tersebut.

Namun semua kerugian itu tidak sebanding dengan kerugian yang bakal kita alami jika kita tidak mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa tersebut. Salah satu hikmah yang sangat dekat dan pantas sekali untuk kita ambil ialah tentang kematian. Ya… kematian. Bukankah musibah-musibah itu telah menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa?


Kematian: Akhir atau Awal?

Saat ini, kematian merupakan topik menarik yang banyak diseminarkan di negara-negara Barat, terutama Amerika. Pembicaraan tentang kematian selalu menarik minat banyak kalangan. Bahkan kini di Amerika, topik tentang kematian telah diupayakan untuk bisa diberikan di sekolah-sekolah. Istilah yang kini banyak digunakan untuk topik ini ialah death education (thanathology).

Memang, kematian adalah suatu keniscayaan yang pasti akan menjumpai setiap orang, tidak peduli warna kulit, ras, kebangsaaan, status sosial, bahkan tidak juga peduli dengan kemajuan teknologi di bidang kesehatan yang dimiliki, kematian tetap saja akan menjemput semua makhluk yang bernyawa. Demikianlah, Bangsa Barat – yang seolah dengan kecanggihan teknologi dan pengetahuan medisnya mampu menunda kematian – pun tetap percaya bahwa kematian akan datang juga.

Dalam berbagai literatur Barat tentang kematian, nampak bahwa arah pembahasan dari topik yang mereka kaji terfokus pada masalah problem-problem psikologis yang mungkin dialami oleh seorang individu pasca kematian orang yang dikasihinya. Kalaupun ada yang membahas tentang kematian terkait dengan orang yang mati itu sendiri, itu hanya sebatas tentang bagaimana agar seorang individu bisa menghadapi kematian sesuai yang diinginkannya. Misalnya mati di dekapan orang yang dicintai dan disaksikan oleh seluruh anggota keluarganya.

Dari situ nampak bahwa kajian atau pembelajaran Bangsa Barat tentang kematian tidak mencakup kematian itu sendiri, apakah kematian itu merupakan akhir kehidupan ataukah sesudah kematian itu ada kehidupan lain lagi, inilah yang tidak dikaji oleh mereka. Hingga akhirnya mereka tidak sampai pada analisa tentang bagaimana seharusnya manusia mempersiapkan diri untuk mati dan untuk kehidupan setelah mati. Nampak bahwa bangsa Barat menganggap bahwa kematian adalah akhir dari kehidupan.

Berbeda dengan konsep Barat, Islam dengan gamblang menyatakan bahwa kematian, selain sebagai akhir perjalanan hidup di dunia, adalah sekaligus awal dari suatu kehidupan yang sejati. Kematian hanyalah sebuah media transisi dari kehidupan dunia yang fana untuk selanjutnya menuju kehidupan akhirat yang abadi. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia ini tidak lebih dari sebuah permainan dan keisengan, bermegah-megah, dan adu kesombongan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan, dan keturunan. Seperti hujan yang turun yang menumbuhkan tanaman-tanaman yang mengherankan para petani, tapi tak lama tanaman itu tampak olehmu layu, menguning, kemudian luluh hancur. Padahal di akhirat masih ada azab yang dahsyat, di samping ada ampunan dari Allah dan keridloan-Nya” (Q.S. Al-Hadiid [57]: 20).


Islam dan Death Education

Berlandaskan pada firman Allah dalam surat al-Hadiid tersebut, kiranya kita mampu untuk menentukan apakah pendidikan tentang kematian itu perlu kita terapkan bagi diri dan bagi anak cucu kita atau tidak. Penulis secara sederhana menyatakan bahwa bagaimanapun juga pendidikan tentang kematian adalah suatu hal yang sangat perlu untuk dipelajari oleh setiap orang, terutama sekali oleh umat Islam. Karena bagaimanapun, setiap kita pasti akan menghadapi yang namanya kematian. Terutama sekali, ketika saat ini, kematian adalah hal yang sangat sering kita jumpai dalam kehidupan kita, entah itu kematian karena bencana alam, kecelakaan, perang, atau pembunuhan.

Berbeda dengan konsep pendidikan kematian yang ditawarkan barat, pendidikan tentang kematian Islam lebih mengarah pada hakikat kematian serta apa yang harus dipersiapkan oleh manusia untuk menghadapi kematiannya, agar kematiannya itu bisa memberi makna. Meski demikian, pendidikan tentang kematian Islam selayaknya juga tidak mengesampingkan pendidikan tentang kesiapan individu menghadapi kematian orang yang dicintainya, agar tidak timbul problem-problem psikologis yang dapat mengarah pada perilaku abnormal, depresi misalnya, sebagaimana pendidikan tentang kematian yang ditawarkan Barat.

Dalam Alquran telah banyak ayat yang berbicara tentang kematian yang bisa diambil untuk bahan pendidikan tentang kematian. Sebut saja surat an-Nisaa [4]: 78 (tentang kematian yang akan menjemput setiap manusia dimanapun mereka berada), Q.S Ali Imron [3]: 185 dan al-Anbiyaa’ [21]: 35 (yang menerangkan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan mati), Q.S al-A’raaf [7]: 57 (tentang kebangkitan orang-orang yang telah mati), Q.S al-Baqarah [2]: 161-162 (tentang laknat bagi orang-orang yang mati dalam keadaan kafir), serta masih banyak lagi ayat-ayat tentang kematian dalam Alquran yang bisa diambil pelajaran darinya.

Kesemua ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan kematian tersebut merupakan literatur komplit bagi setiap manusia yang ingin menggali lebih dalam tentang hakikat kematian. Melalui ayat-ayat tersebut, setiap muslim akan mampu memiliki pandangan serta pengetahuan yang benar tentang kematian, serta segala bekal yang harus dipersiapkan agar kematiannya menjadi bermakna.

Death Education yang Bersumber dari Bencana

Selain bersumber dari ayat-ayat dalam Alquran (qauliyah), pelajaran tentang death education juga dapat kita ambil dari ayat-ayat kauniyah-Nya. Berbagai bencana alam, kecelakaan, kriminalitas, atau bahkan kematian yang wajar sekalipun merupakan sumber rujukan yang sangat tepat untuk mempelajari hakikat kematian. Berbagai bencana alam dan peperangan yang banyak terjadi saat ini yang telah merenggut ratusan ribu nyawa, semuanya menjadi literatur yang up to date untuk meningkatkan kesadaran serta kesiapan kita menyongsong datangnya kematian yang setiap saat bisa menjemput kita.

Setiap orang tentu mengharap bahwa hidup yang hanya sekali di dunia ini bisa berarti. Namun lebih dari itu, setiap muslim juga mengharap bahwa kematian yang juga hanya akan datang sekali, juga bisa memberi arti. Kematian yang berarti ialah kematian pada saat yang tepat, pada saat kita siap, kematian yang mampu meninggalkan berbagai kemaslahatan bagi umat, serta mendapat bekal untuk menuju akhirat.

Biarlah saat lahir kita menangis dan orang-orang tertawa, karena tawa tersebut merupakan bukti cinta kasih mereka atas kedatangan kita di dunia. Dan biarkanlah pula orang-orang menangis saat kita mati, asalkan kita bisa tersenyum dan tertawa, karena tangis mereka saat kita pergi menghadap Khalik adalah juga sebagai bukti cinta dan kasih mereka atas diri kita.

Ingatlah bahwa dalam surat al-Hadiid di atas, Allah telah menerangkan bahwa di akhirat telah menanti azab yang sangat dahsyat, namun selain itu ampunan serta ridha-Nya juga senantiasa menunggu di sana. Kini terserah pada kita hendak memilih yang mana. Semoga saja semua bencana, musibah, serta peristiwa yang telah menyebabkan kematian saudara-saudara kita semakin meningkatkan kesadaran kita untuk lebih giat mempersiapkan diri akan datangnya kematian yang sewaktu-waktu datang pada kita. Kematian yang akan mengantarkan kita untuk berjumpa dengan sang Khalik dan mempertanggungjawabkan setiap amal yang kita perbuat di dunia.

Wallahu a’lam bisshowab.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

Refleksi Peringatan Isra’-Mi’raj


SHALAT SEBAGAI MEDIA PENCERAHAN

“Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambanya pada waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsha, yang telah Kami berkahi sekitarnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat Kami (QS. Al Isra’ [17] : 1)



Setiap memasuki bulan Rajab, umat Islam antusias memperingati perjalanan monumental Rasulullah dari Mekkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina (isra`) dan naiknya beliau ke langit (mi’raj) dalam rangka menerima risalah shalat lima waktu yang dilaksanakan umat Islam saat ini.

Kesemarakan dalam memperingati Isra’ dan Mi’raj terserbut sepertinya melupakan kontroversi perihal bagaimana Nabi Muhammad melakukannya; apakah dengan jasad atau hanya ruhnya saja? Memang persoalan ini tidak banyak diungkap secara lugas dan jelas. Biasanya para penceramah hanya menyinggung persoalan apakah perjalanan dengan jasad atau ruh itu sambil lalu. Itupun biasanya hanya merupakan penegasan bahwa perjalanan itu dengan jasad. Dalam arti, Nabi Muhammad-ketika melakukan isra’ dan mi’raj-benar-benar melakukannya dengan jasad (badan), karena hanya dengan itu, kedua peristiwa tersebut mempunyai makna yang luar biasa bagi orang yang beriman. Berbeda dengan jika hanya dipahami dengan ruh saja di mana nilainya tidak lebih dari sebuah mimpi.

Di kalangan ulama tafsir sendiri terjadi silang pendapat perihal itu yang disebabkan perbedaan cara pandangan terhadap kata, bi `abdihi dalam surah al-Isra` ayat 1. Ulama yang mendukung perjalanan dengan jasad (badan) berpendapat bahwa kata `abd (hamba) tidak bisa ditafsirkan dengan lain selain dengan sesuatu yang terdiri dari badan dan ruh. Oleh sebab itu, bagi penganut faham ini, penafsiran kata ‘abd dengan menambah ruh secara tersirat di depannya, bertentangan dengan sifat i`jaz (sifat keluarbiasaan) yang ingin ditunjukkan Allah melalui momentun itu. Dan, menurutnya, jika perjalanan hanya dengan ruh saja, tentunya kafir Quraisy tidak melakukan penentangan yang luar biasa, karena bagi mereka hal itu merupakan suatu yang mustahil.

Sedangkan bagi golongan yang mengatakan dengan ruh saja (bi ruh ‘abdihi) tidak mungkin perjalanan itu dilakukan dengan jasad, karena ketidakmungkinan tadi. Dan mengenai anggapan pihak pertama yang mengatakan jika itu dilakukan dengan ruh akan mengurangi sifat i`jaz bukan suatu yang sangat mendasar, karena persoalan utamanya adalah iman kepada ajaran yang dibawa Nabi. Jadi persoalan utamanya adalah iman kepada apa yang dibawa Nabi bukan masalah bagaimana kedua momentum itu terlaksana. Sebab al-Quran tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai hal itu. Prof. Ahmad Baiquni, MSc., PhD (alm) sependapat dengan aliran kedua itu dan dalam hal ini sepertinya ia terinspirasi oleh buku Near-Dath Eexperience (Hidup Sesudah Mati) yang menceritakan perihal pengalaman orang-orang yang pernah mengalami mati suri.

Terlepas dari persoalan kontroversi perihal bagaimana Nabi ber-Isra’ dan ber-Mi`raj, yang jelas hal itu bukan merupakan persoalan yang sangat esensial, karena persoalan sesungguhnya dalam kedua momen besar itu adalah perintah untuk menjalankan shalat. Semestinya, setiap kali umat Islam merayakan kedua peristiwa besar itu, mengevaluasi apakah shalat-shalat sebelumnya telah memenuhi tuntutan Nabi Muhammad.

Pada masa sekarang, fenomena keagamaan memang semarak yang ditandai dengan antusiasmenya masyarakat dalam mengikuti acara-acara yang berkaitan dengan agama, mulai dari tahajud bersama, zikir bersama, dan lainnya. Hanya saja, pada saat fenomena keagamaan itu meningkat, ada fenomena lain yang tidak kalah semaraknya, seperti semaraknya perjudian dan bentuk-bentuk kemasiatan lainnya. Semestinya, ketika fenomena keagamaan tersebut menggeliat menurunkan fenomena kemaksiatan tersebut. Dan, sesuai dengan fakta bahwa Indonesia dihuni oleh umat Islam sebagai penduduk mayoritas, pelaku-pelaku kemaksiatan tersebut mayoritasnya sudah pasti orang Islam juga. Adakah fenomena itu sejalan dengan keyakinan masyarakat saat ini bahwa manusia berkualitas saleh maka setan penggodanyapun akan setara dengannya, sehingga manakala fenomena keagamaan meningkat tandingannyapun akan semakin meningkat juga.

Memperhatikan hal itu, apakah karena pengaruh sekularisme atau karena kedangkalan pemahaman agama, saat ini sepertinya sudah berkembang opini bahwa agama hanya berkaitan dengan ibadah (shalat, haji, zakat, puasa, dan lainnya) sedangkan di luar itu merupakan persoalan duniawi yang tidak ada kaitannya dengan agama. Opini tersebut jika tidak mendapatkan perhatian serius akan semakin memarjinalkan peran agama dalam lingkup rumah ibadah saja. Padahal, selaku umat Islam semestinya menghayati, firman Allah, “Sesungguhnya shalat (bisa) mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS, Al Ankabut [29]: 45). Akan tetapi, jika sesorang sudah rajin shalat, namun tidak bisa menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar, perlu dipertanyakan bagaimana ia melakukannya.

Dalam rangka memberikan pemahaman yang benar mengenai bagaimana shalat semestinya dilakukan oleh setiap muslim, ulama memberikan distingsi antara pengertian ada’ atau ta’diyah dan pengetian iqamah yang dalam bahasa Indonesia masing-masing berarti menunaikan dan mendirikan. Kenapa persoalan pemilihan kosa kata Arab tersebut menjadi perhatian ulama dalam rangka memberikan pemahaman yang benar, karena secara filosofis kedua kata tersebut mempunyai implikasi berbeda. Kata ada’ dan ta`diyah lebih banyak berorientasi kepada aspek formal saja, sedangkan iqamah selain menekankan pelaksanaan aspek formal yang benar, aspek isoteris dalam shalat mesti mendapatkan perhatian yang serius dari seorang mushalli agar shalat yang dilakukannya benar-benar memberikan pencerahan kepada pelakunya sehingga tujuan dari shalat sebagaimana disebut dalam surah Al Ankabut : 45 tersebut benar-benar bisa terwujud. Oleh sebab itu, berkaitan dengan pemenuhan kewajiban shalat-di samping nas mereferensi penggunaan kata iqamah ulama juga menggunakan kosa kata serupa dalam penjelasan mereka agar umat Islam dalam melakukan rukun Islam ke dua itu tidak semata-mata memenuhi kewajiban, tapi sebagai kebutuhan untuk pencerahan jiwa. Bukankah Allah telah berfirman, Hanya dengan berzikir hati menjadi tenang? Dan, shalat sebagai bentuk zikir tertinggi semestinya berdampak kepada hal itu. Dalam rangka menuju kepada maksud tersebut. Mahmud Muhammad Thaha, setelah mengutip hadis Nabi yang maksudnya bahwa shalat bisa mendatangkan ketenangan jiwa dan membuka mata hati pelakunya, mengatakan, Maknailah shalatmu!

Menurut Mahmud Muhammad Thaha, dalam kitabnya Risalah al-Shalah (Terjemahan LKIS: Shalat Perdamaian), shalat merupakan sebuah metode jika dilakukan secara berulang-berulang, akan dapat melihat ke dalam diri, bertemu dengan jiwa kita sendiri, hidup berdampingan dengannya, mengenali, dan mewujudkan perdamaian dengannya. Hal itu, karena kita hidup berdampingan dengan alam lahir tenggelam dalam angan-angan indera kita, terlena dengan itu semua sehingga melupakan hakekat yang terpusat di balik yang ditutupinya. Allah menjadikan alam lahir sebagai petunjuk bagi hakekat tersebut, bukan sebagai penggantinya. Oleh sebab itu, umat Islam wajib memperhatikan sarana itu, agar tetap terjaga guna mengingat Allah. Bukankah Nabi pernah bersabda, Manusia itu tidur, apabila mati, barulah mereka terjaga? Untuk menjaga manusia agar senantiasa terjaga dari lupa dan kesalahan adalah dengan mengingat Allah, dan shalat merupakan salah satu metode sekaligus yang utama untuk itu. Berkaitan dengan itu, menurutnya sangat penting bagi umat Islam untuk mencapai tingkatan shalat seorang muslim, bukan hanya sampai tingkatan shalat seorang mukmin. Apa perbedaan di antara shalat kedua golongan itu? Memperhatikan penjelasannya dalan bukunya, terlepas dari maksud khususnya yang diinginkannya dari pemberian istilah mukmin dan muslim, apa yang dimaksud dengan shalat seorang mukmin adalah orang-orang yang melakukan shalat sekedar memenuhi kewajiban semata, sedangkan yang dimaksud seorang muslim adalah orang-orang ketika mendirikan shalat memenuhi kriteria ihsan, yaitu mereka ketika beribadah seakan melihat Allah, meskipun ia tidak melihat-Nya, tapi yakin bahwa Allah melihat mereka. Dengan kata lain, dalam pandangan Mahmud Muhammad Thaha, shalat mukmin baru sampai taraf ada’ atau ta’diyah sedangkan shalat muslim adalah sudah sampai kepada taraf iqamah. Jenis shalat yang terakhir itulah-menurutnya-yang akan memberikan pencerahan kepada pelakunya seperti yang disebut dalam surah Al Ankabut : 45 tersebut.

Oleh sebab itu, kesemarakan peringatan Isra’-Mi’raj pada bulan Rajab ini, semestinya dijadikan evaluasi bagi setiap muslim dalam melaksanakan perintah shalat. Apakah shalat yang dilakukan berdampak kepada ketenangan jiwa dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jika hal itu tidak dilakukan, kesemarakan peringatan Isra’-Mi’raj hanya akan melahirkan budaya konsumtif dan menguntungkan sedikit peceramah saja. Sedangkan shalat sebagai media pencerahan jiwa diabaikan.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

KIAMAT SUDAH DEKAT?


Pertanyaan di atas patut kita renungkan bersama mengingat banyak terjadi fenomena alam maupun fenomena sosial tentang tanda-tanda kiamat yang terdapat dalam hadits Rasulullah saw. Fenomena alam dengan berbagai bencana yang ada, baik itu murni kehendak Allah ataupun yang disebabkan oleh tangan manusia, menunjukan bahwa alam ini sudah berusia semakin tua. Adapun fenomena sosial, saat ini sudah banyak tanda-tanda sebagaimana diprediksi oleh baginda Rasulullah saw dalam haditsnya. Tulisan berikut ini akan memaparkan beberapa hadits Nabi saw tentang tanda-tanda kiamat, dan sedikit mengupas tentang dugaan seseorang bernama Sai Baba sebagai Dajjal akhir zaman sebagaimana ditulis oleh Abu Fatiah dalam bukunya “Dajjal sudah muncul dari Khurasan.

Berikut ini beberapa dalil tentang tanda-tanda akhir zaman. Hadits Rasulullah yang berbunyi :”Sesungguhnya diantara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat itu ada tiga, salah satunya ialah akan dituntutnya ilmu dari al-Ashogir (orang-orang kecil)”. Orang kecil maksudnya adalah orang yang berkata menurut pendapatnya sendiri saja (tanpa mengacu pada Kitabullah dan sunnah Rasulullah).

Hadits Rasulullah yang berbunyi:”Pada angkatan belakangan umatku, akan ada para lelaki yang naik pelana kuda yang menyerupai pelana kuda, lantas turun di pintu-pintu masjid. Wanita-wanita mereka berpakaian tapi telanjang, rambut kepala mereka bagaikan kelasa unta yang tinggi. Laknatlah mereka, karena mereka adalah wanita-wanita terlaknat. Kalau di belakang (sesudahmu) mu nanti masih ada umat-umat lain, niscaya wanita-wanita kamu akan melayani wanita-wanita mereka, sebagimana dahulu kamu dilayani oleh wanita-wanita sebelum kamu.

Hadist di atas bukan sekedar kabar biasa, ia merupakan peringatan Rasulullah agar para suami tidak mudah memberikan izin kepada istri mereka untuk keluar rumah untuk sebuah kepentingan yang sepele. Juga merupakan peringatan agar mereka menjauhi tradisi jahiliah yang membebaskan wanita untuk berbaur dengan laki-laki

Hadits Rasulullah yang berbunyi:”Ada tiga perkara yang apabila terjadi, maka tidak bermanfaat iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau belum mengusahakan kebaikan dalam imannya, yaitu terbitnya matahari dari arah barat, (munculnya) Dajjal, dan keluarnya binatang (binatang melata yang bisa bicara) dari dalam bumi”. Terbitnya matahari dari arah barat, ada yang mentakwilkan dengan ungkapan, bahwa di akhir zaman nanti seluruh manusia akan berkiblat ke Barat (Eropa dan Amerika), dan itu merupakan pujian terhadap kemajuan budaya dan tingkat kehidupan bangsa Barat. Tapi menurut Abu Fatiah, pendapat ini lemah. Ada lagi yang memaknai Terbitnya matahari dari arah Barat dengan menghubungkannya dengan ilmu alam dimana suatu saat nanti bumi ini tidak lagi berputar sebagaimana biasanya namun ia akan berbalik arah, hingga matahari akan tampak terbit dari Barat. Pendapat ini juga kurang berdasar karena logikanya ketika bumi tidak berputar seperti biasa maka kehidupan ini akan hancur karena semua yang ada diatas bumi berantakan, bagaimana mungkin akan diketahui arah terbit matahari. Pada saat terjadinya peristiwa terbitnya matahari dari arah barat, manusia masih tetap seperti sedia kala. Kaum muslimin masih melaksanakan ibadah dan mereka masih hidup untuk beberapa waktu lamanya.

Nabi saw dalam kesempatan lain menceritakan bahwa salah satu tanda dekatnya kiamat adalah banyaknya fitnah besar yang menyebabkan tercampurnya antara hak dan batil. Di saat itu iman manusia mudah tergoncang. Bahkan karena beratnya fitnah yang dihadapi manusia, ada di antara mereka yang di waktu pagi dalam keadaan beriman, di sore hari telah menjadi kufur. Di waktu sore mereka dalam keadaan beriman, dan ketika masuk pagi hari mereka telah menjadi kufur.

Salah satu tanda akhir zaman yang akhir-akhir ini cukup menyedot perhatian adalah kehadiran seorang bernama Sai Baba, dia lahir dan tinggal di Desa Nilayam Puthaparti, wilayah timur Khurasan, tepatnya India Selatan. Benarkah dia Dajjal sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya? Ada dua hadits yang menyebutkan hal ini; pertama, hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar as-Shiddiq, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini dibagian timur bernama Khurasan (Jamiu at Tirmidzi). Kedua, sabda Rasulullah saw, Ketahuilah, bahwa dia berada di laut Syam atau laut Yaman. Oh tidak, bahkan ia akan datang dari arah timur. Apa itu dari arah timur… dan Beliau berisyarat dengan tangannya menunjuk ke arah timur (Shahih Muslim).

Hal yang cukup mengejutkan, sudah ribuan muslimin yang terjebak pada fitnah lelaki yang tertuduh sebagai Dajjal ini. Dan sudah lebih dari puluhan juta manusia dari berbagai suku bangsa dan agama yang masuk dalam tipu dayanya. Laki-laki ini bagai medan magnet raksasa yang mampu menyedot perhatian seluruh manusia dari berbagai negara. Mereka datang untuk memohon berkah dan karamah darinya. Dan lebih parah lagi, mereka yang datang menemuinya semakin yakin bahwa tokoh tersebut adalah Tuhan yang dijanjikan muncul di akhir zaman. Dialah Begawan Shri Satya Sai Baba Sang Avatar, seorang lelaki kribo yang tinggal di wilayah timur Khurasan, tepatnya India Selatan. Desa Nilayam Putthaparti. Laki-laki itu memiliki kemampuan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang lumpuh dan buta, bahkan mampu menurunkan hujan dan mengeluarkan tepung dari tangannya. Ia juga mampu berjalan melintasi belahan bumi dalam sekejap, menciptakan patung emas, merubah besi menjadi emas, dan banyak lagi berbagai fitnah yang ditunjukkan oleh Sai Baba kepada ribuan orang – bahkan – jutaan yang datang dari berbagai suku bangsa dan agama. Maka sudah saatnya bagi setiap muslim untuk mengetahui masalah ini, agar dirinya tidak menjadi korban berikutnya dari fitnah Sai Baba ini.

Beberapa korelasi dan keserupaan antara Sai Baba sang Avatar dan sifat-sifat Dajjal yang disebutkan oleh Rasulullah saw; Dajjal memiliki kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dan kecepatannya seperti badai atau secepat awan yang ditiup angin kencang, Sai Baba memiliki kemampuan berjalan menjelajahi bumi dalam perhitungan kejapan mata. Dajjal memiliki banyak pengikut bahkan di akhir zaman nanti banyak manusia yang berangan-angan untuk berjumpa dengan Dajjal, Sai Baba memiliki pengikut yang jumlahnya puluhan juta manusia. Dajjal mampu menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit, Sai Baba memiliki kemampuan menghidupkan orang mati dan menyembuhkan para penderita kanker. Dajjal bisa menurunkan hujan, Sai Baba juga mampu menurunkan hujan dan mendatangkan air untuk penduduk Prasanti Nilayam. Dajjal bisa berpindah raga dan tempat, dari satu bentuk ke bentuk lainnya, Sai Baba bisa berpindah dari satu jasad ke jasad yang lain yang merupakan bentuk reinkarnasi dirinya. Dajjal akan mengaku sebagai Tuhan, Sai Baba mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan penguasa alam semesta. Dajjal datang dan bersama ada gunung roti dan sungai air, Sai Baba memiliki kemampuan mengeluarkan vibhuti (tepung suci) di udara dari tangannya. Dajjal akan muncul dan mengaku sebagai Nabi, Sai Baba mengaku akan menjelma sebagai al-Masih Isa setelah tahun 2020. Dajjal akan muncul lalu mengaku sebagai orang bijak, sehingga banyak sekali orang yang tertarik untuk mengikutinya, Sai Baba mengaku sebagai orang bijak yang membawa misi kebajikan untuk jagat raya. Dajjal pimpinan orang Yahudi, Sai Baba memiliki misi menyebarkan teologi zionis.

Pada akhirnya, kita telah mengetahui betapa besarnya fitnah dan subhat yang ditimbulkan oleh Sai Baba ini. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi fitnahnya? Bagaimana jika tuduhan bahwa Sai Baba ini kelak terbukti sebagai Dajjal yang dijanjikan, dan bagaimana jika ia hanya salah satu dari 30 Dajjal pendusta penebar subhat?

Jika benar bahwa Begawan Sai Baba adalah Dajjal yang dimaksud, maka antisipasi yang paling dini adalah hendaknya setiap muslim tidak pernah melupakan doa perlindungan dari fitnah Dajjal, juga membaca sepuluh awal dan sepuluh akhir surat al Kahfi, setidaknya pada setiap malam Jum’at. Selebihnya, jangan sekali-kali berfikir untuk mendatanginya, meski sebatas penasaran dan sekedar ingin tahu, apalagi untuk mencari solusi darinya, na’udzubillah. Sudah banyak kyai dan ulama India yang melakukan hal itu. Mereka datang untuk sekedar ingin tahu atau klarifikasi atas semua isu tersebut. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, tiba-tiba saja mereka takluk dan mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Sai Baba. Umat Islam di Nilayam Putthaparti yang dibangunkan masjid oleh Sai Baba-pun tak kuasa untuk tidak mengakui kebenaran dan kebesarannya, bahkan mereka berani memberikan pujian bahwa Sai Baba lah yang membuat keimanan mereka bertambah dan pengetahuan mereka tentang Islam dan Alquran menjadi lebih baik.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

ZAKAT SEBAGAI ALTERNATIF PENGENTASAN KEMISKINAN


Semua umat Islam meyakini dan mengakui bahwasannya Islam merupakan agama rahmatan lil ‘aalamiin, yang mengajarkan kepada setiap umatnya untuk mewujudkan kehidupan yang adil, makmur, tentram, dan harmonis antara si miskin dan si kaya kapan dan dimanapun berada. Namun realitasnya, kondisi umat Islam sendiri masih jauh dari ideal, misalnya tingkat kemampuan ekonomi umat masih sangat rendah dan belum merata. Keadaan tersebut terjadi karena potensi-potensi yang dimiliki umat belum termanfaatkan dan dikembangkan secara optimal sehingga tidak mampu mengubah taraf kehidupan umat ke arah yang lebih baik. Zakat adalah salah satu di antara lima pilar yang menegakkan bangunan Islam. Di sisi lain, ia juga merupakan sebuah bentuk ibadah yang mempunyai keunikan tersendiri, karena di dalamnya terdapat dua dimensi sekaligus, yakni dimensi kepatuhan atau ketaatan dalam konteks hubungan antara hambah dan khalik, dan sekaligus dimensi kepedulian terhadap sesama makhluk Allah, khususnya hubungan sosial sesama manusia.

Selain itu zakat yang menjadi bagian dari rukun Islam, keberadaannya telah diatur sedemikian rupa dalam alqur’an dan assunnah, sehingga bila tidak dilaksanakan, yang bersangkutan bisa dikategorikan kufur. Salah satu potensi ajaran Islam yang belum ditangani dengan baik dan serius oleh pemerintah adalah zakat, yang secara bahasa berarti membersihkan, bertambah dan tumbuh. Zakat merupakan ibadah yang bercorak sosial-ekonomi, sebagai kewajiban seseorang muslim atau badan hukum yang dimilikinya untuk mengeluarkan sebagian hak miliknya kepada pihak yang berhak untuk menerimanya (mustahiq) agar tercipta pemerataan ekonomi yang berkeadilan.

Zakat merupakan ibadah yang mempunyai dimensi yang sangat luas. Bila dilihat dari sasarannya, zakat bukan hanya berdimensi sosial-agama, tetapi juga berdimensi sosial-politik. Ini dapat dilihat dari sasaran zakat yang berkaitan dengan pemerintah, yaitu penanganan muallaf (aspek dakwah) dan penegakan agama Allah (sabilillah). Oleh sebab itulah, Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa dalam agama Islam harus ada jamaah dan kekuasaan yang mengumpulkan zakat melalui para petugasnya dan kemudian mengeluarkannya untuk menyebarkan dakwah menyebarkan agama Allah, yang termasuk ke dalam makna sabilillah.

Dalam zakat terdapat unsur mengembangkan sikap gotong-royong dan tolong-menolong. Sebab zakat dapat membantu orang-orang yang terjepit kebutuhan dan membatu menyelesaikan hutang bagi orang-orang yang sedang pailit. Zakat juga menolong orang-orang yang sedang dalam perantauan, pengungsi, sampai orangtua yang pikun atau jompo. Dengan zakat pula, dakwah Islam dapat diperluas cakupannya, termasuk untuk menjinakkan hati para muallaf. Misi sosial zakat yang begitu idealis tersebut tidak dapat dipenuhi dengan baik tanpa adanya lembaga pengelolaan zakat yang dijalankan secara profesional. Menurut Yusuf Qardhawi, zakat merupakan salah satu dari aturan jaminan sosial dalam Islam, dan Islam memperkenalkan aturan ini dalam ruang lingkup lebih luas dan mendalam yang mencakup semua segi kehidupan manusia

Zakat dipadang sebagai aturan jaminan sosial pertama yang tidak bergantung pada pertolongan penguasa secara sistematis. Tujuan akhirnya adalah memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan, baik pangan, sandang, perumahan, maupun kebutuhan hidup lainnya. Pelaksanaan kewajiban zakat ini sangatlah penting, bahkan Allah sering mengaitkannnya dengan kewajiban melaksanakan sholat. Dalam penafsiran Muhammad Abduh, penggabungan antara sholat dan zakat menunjukan peran penting keduanya dalam kehidupan manusia. Dengan sholat setiap muslim diharapkan memiliki jiwa yang bersih dan suci dari perbuatan keji dan kotor. Sedangkan dengan zakat, umat Islam diharapkan menjadi masyarakat yang kokoh dan berpadu dalam segala bidang.

Pada masa awal Islam, zakat merupakan salah satu sumber pendanaan negara dan sangat berperan aktif dalam memberdayakan serta membangun kesejahteraan umat, terutama dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, menurut penulis, setidaknya terdapat tiga aspek yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban zakat. Pertama aspek moral dan psikologis, pada segi ini diharapkan zakat dapat mengikis habis ketamakan dan keserakahan si kaya yang memiliki kecenderungan cinta harta. Kedua aspek sosial, dalam hal ini zakat sebagai bertindak sebagai alat khas yang diberikan Islam untuk menghapus taraf kemiskinan masyarakat dan sekaligus menyadarkan orang-orang kaya akan tanggungjawab sosial yang yang dibebankan agama kepada mereka. Dan ketiga aspek ekonomi, di sini zakat difungsikan untuk mencegah penumpukan harta pada sebagian kecil orang dan mempersempit kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. Dengan kata lain, zakat sebagai effort to flowing yang difungsikan sebagai pengendalian terhadap sifat manusia yang cenderung senang terhadap akumulasi kekayaan dan kehormatan sebagaimana firman Allah:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Ali Imran [3]: 14); bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai engkau masukke dalam kubur (QS. At-Takaatsuur [102]:1-2).

Peran zakat sangat penting dalam usaha pemberdayaan potensi ekonomi umat. Agar pelaksanaannya dapat efektif, Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa urusan zakat sebaiknya jangan dikerjakan sendiri oleh muzakki (orang yang mengeluarkan zakat), melainkan dipungut oleh petugas zakat yang telah ditunjuk oleh negara (dalam konteks Indonesia adalah Badan atau Lembaga Amil Zakat).

Betapa penting peran dan manfaat zakat sehingga pada masa Rasulullah SAW dan pemimpin Islam setelahnya tidak menyerahkan urusan zakat kepada kerelaan orang-perorang semata, tetapi menjadi tanggungjawab pemerintah (lembaga yang ditunjuk oleh negara), baik dalam proses pemungutan maupun pendistribusian. Oleh karenanya, yang aktif menarik dan mendistribusikan zakat adalah pejabat yang telah ditunjuk oleh negara. Dalam melaksanakan tugasnya mereka diberi kewenangan untuk menggunakan “paksaan” seperti yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar r.a. dengan memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. Pada akhirnya apabila zakat benar-benar dapat berjalan efektif, diharapkan tercapai sosial safety nets (kepastian terpenuhinya hak minimal kaum papa) serta berputarnya roda perekonomian umat, mendorong pemanfatan dana ‘diam’ (idle), mendorong inovasi dan penggunaan IPTEK serta harmonisasi hubungan si kaya dan si miskin. Sehingga pada akhirnya kehidupan umat yang ideal dengan sendirinya akan terwujud.

Wallahu a’lam.
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini

CERDAS MENYIKAPI PERBEDAAN


Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah

dan janganlah kamu bercerai berai.”

(QS. Ali Imron [3]: 103).



Perbedaan, sebuah kata yang tak asing bagi kita. Perbedaan suku, bangsa, adat istiadat, dan kebudayaan telah menjadi ciri khas di negara kita tercinta. Akan tetapi, bagaimana jadinya bila perbedaan tersebut didasarkan atas perbedaan pemahaman dalam melaksanakan agama Islam? Tentunya agama Islam hanyalah satu, yakni yang diwahyukan oleh Allah SWT melalui Rasulullah SAW. Dalam perjalanannya, umat Islam banyak berbeda pendapat dalam masalah agama, dan masing-masing menganggap bahwa pendapat merekalah yang paling benar. Parahnya lagi, ada sebagian kalangan yang sampai tidak mau mengucapkan salam terhadap kalangan lain yang tidak sepaham, bahkan sampai ada yang begitu mudahnya mengkafirkan kalangan lain yang tidak sejalan dengan pemahamannya.

Sebelum kita melangkah lebih jauh mengenai perbedaan, perlu kita ketahui hal-hal yang dapat menyebabkan perbedaan, diantaranya:

Pertama, ta’ashshub (fanatik) yang tercela, yaitu fanatik sebagian orang terhadap golongan tertentu karena mengikuti hawa nafsu, baik itu karena fanatik yang disebabkan oleh kafanatikan terhadap ras atau golongan atau kepentingan dunia, atau karena benci pada pihak yang menyelisihinya. Inilah fanatik yang menambah perpecahan. Untuk menhindari fanatisme yang demikian, kita hendaknya mengikhlaskan amalan semata-mata karena Allah dan tidak memandang manusia karena status dan kedudukan. Karena hanya akan menyebabkan seseorang mengukur kebenaran berdasarkan figur/ tokoh tertentu, padahal justru kebenaran itulah yang menjadi ukuran untuk menilai kedudukan seseorang. Semestinya dia harus membela kebenaran dan orang yang berada di atasnya meskipun orang itu kecil atau rendah derajatnya. Semestinya harus pula dia mencegah orang dzalim dari kedzalimannya walaupun mulia dan tinggi kedudukannya.

Kedua, menukil perkataan dan menyebarluaskannya tanpa tahu secara mendalam apa yang didengar dan diketahuinya. Menukil perkataan di antara manusia khususnya dalam perselisihan merupakan hal yang menambah perpecahan. Nabi SAW membenci “qiila wa qoola” atau banyak menukil perkataan antar manusia tanpa dasar. “Kata Fulan begini…, kata Fulan begitu, Fulan mengatakan begini…, Fulan dikatakan begitu..” sehingga diapun menyibukkan waktu-waktunya dengan perkataan tersebut. Untuk menghindari sifat ini, kita wajib menjaga lisan, tidak memperbanyak menukil perkataan tanpa dasar dan bukti, tidak pula memperbanyak pembicaraan yang tidak ada manfaatnya, dan menjauhinya dengan mengatakan: “Tidak layak kita disibukkan dengan hal ini tapi sibukkan diri kita dengan menuntut ilmu dan hal-hal yang bermanfaat,” kecuali jika (menukil perkataan itu) ada maslahatnya untuk mendamaikan, maka hal itu diperbolehkan.

Ketiga, jahil (bodoh). Perselisihan kadang disebabkan oleh kejahilan, jahil terhadap yang haq (benar) atau jahil terhadap ahli haq. Jahil terhadap al-haq adalah tidak tahu dipihak mana kebenaran itu berada. Contohnya jika ada 2 golongan berselisih dalam masalah ilmiah, kemudian datang orang yang tidak mengetahui kebenaran dalam masalah yang diperselisihkan ini, sehingga diapun membela yang bathil. Inilah yang dapat menambah perpecahan dan perselisihan. Atau bisa jadi karena jahil terhadap ahlul haq (orang-orang yang mengikuti kebenaran).

Ketika menghadapi suatu perbedaan pendapat dalam masalah agama, seorang muslim hendaknya melakukan hal-hal berikut: Pertama, berusaha untuk mencari kebenaran dan membelanya. Inilah sikap yang benar bagi seorang muslim dalam permasalahan yang diperselisihkan, baik itu masalah ilmiah (keilmuaan) ataupun masalah amaliah (pengamalan) yang dilakukan dalam medan dakwah ataupun yang lainnya. Kewajiban seorang muslim, yang pertama adalah mengetahui kebenaran dengan dalil-dalilnya. Andaikata perselisihan itu dalam masalah masalah ilmiah, hendaklah seorang muslim mempelajari dalil-dalilnya serta mengetahui sikap ulama dalam masalah ini, kemudian dia pun mengambil sikap yang jelas dan gamblang dalam masalah ini.

Kedua, apabila perselisihan itu terjadi diantara saudara sesama muslim, maka wajib baginya untuk bersabar, serta tidak melakukan tindakan yang dapat memecah-belah. Walaupun kita melihat kebenaran pada salah satu pihak yang berselisih, di mana tentunya kita wajib memegangnya, maka dia hendaknya bersabar dalam menghadapi saudara yang lainnya. Kemudian jika dia mendapati salah seorang dari mereka bersalah, wajib baginya untuk bersabar dan menasehatinya. Jadi kewajiban kita adalah mengetahui di pihak manakah kebenaran itu berada.

Ketiga, menasehati pihak yang bersalah sambil berusaha semampunya untuk menyatukan kalimat di atas al-haq dan mendekatkan sudut pandang, kemudian berusaha untuk mengadakan ishlah. Inilah perbuatan yang paling utama sebagaimana firman Allah SWT: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia” (QS. An-Nisaa [4]: 114).

Keempat, tidak melakukan tindakan yang menambah perpecahan dan perselisihan dengan menukil atau menyebarkan perkataan yang tanpa dasar atau bukti yang kuat, tapi hendaklah memahami terlebih dahulu dan tatsabut (meneliti) perkataan dan perbuatannya.

Kelima, bersikap wasath (netral) antara pihak yang ghuluw (berlebih-lebihan) dan membesar-besarkan setiap kesalahan serta menyebarkannya kepada orang banyak, dan dengan pihak lain yang mutasaahilin (terlalu bermudah-mudahan/ meremehkan), yang tidak membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Maka selayaknya dia menjadi orang yang berfikir dan berusaha mempersatukan serta mendekatkan sudut pandang mereka diatas al-haq, serta menasehati yang bersalah, juga menasehati pihak yang lain untuk bersabar dan menahan diri.

Keenam, jika dia melihat yang haq berada pada salah satu pihak, maka hendaklah dia berlaku adil dalam menghukumi pihak yang lain, tapi tidak setiap yang menginginkan al-haq itu akan diberi taufik untuk mendapatkannya. Terkadang seseorang berbuat kesalahan tanpa sengaja, padahal dia menginginkan al-haq, tapi barangkali karena kurangnya pengetahuan dia dalam suatu segi tertentu sehingga diapun jatuh dalam perselisihan dan kesalahan. Maka hendaknya kita bersabar atas mereka serta mengakui kebaikan dan keutamaan mereka.

Kemudian, setelah kita mengetahui penyebab dan kewajiban kita terhadap perbedaan pendapat, maka dapatlah kita mengupayakan perdamaian bagi mereka yang berselisih, dengan cara:

Pertama, niat yang jujur dan benar untuk mendamaikan. Allah berfirman tentang dua orang penengah yang mendamaikan suami-istri yang berselisih: “Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu ”(QS. An-Nisaa [4]: 35). Kalau dalam masalah mendamaikan suami-istri saja Allah menjanjikan taufiq untuk mereka berdua, apalagi orang-orang yang berusaha untuk mendamaikan antara kaum muslimin, tidak diragukan lagi dia akan diberi taufik apabila terpenuhi padanya niat jujur (benar). Kejujuran niat itu merupakan salah satu sebab hilangnya perselisihan, sehingga diapun menjadi kunci kebaikan yang Allah mudahkan dengannya terjadi perdamaian.

Kedua, mendoakan kebaikan saudara-saudara kita dengan mengikhlaskan niat agar Allah mengangkat perselisihan, mendamaikan dan menyatukan hati mereka di atas kebaikan dan taqwa serta membimbing mereka dalam kebenaran.

Ketiga, menasihati pihak yang salah secara langsung dengan hikmah dan perkataan yang baik. Tapi ini bagi orang yang mampu melakukannya, adapun orang yang tak mempunyai kemampuan untuk menasehatinya maka tak ada kewajiban baginya.

Keempat, menasehati pihak yang benar agar bersabar. Para sahabat Nabi SAW pun berselisih dalam banyak masalah, bahkan terjadi fitnah di zaman mereka. Namun setiap mereka mengatakan pada temannya: “Kami tidak merasa lebih dari kalian dalam iman dan taqwa,” Ali bin Abi Thalib r.a mengatakan: “(Mereka) adalah saudara-saudara kita, kita tidak merasa melebihi mereka dalam iman dan taqwa” padahal beliau adalah orang yang paling utama. Demikian pula Muawiyah r.a, beliaupun mengakui keutamaan Ali r.a. dan mengatakan: “Kami tidak memerangi beliau dalam perkara ini (khilafah) dan mengakui keutamaan beliau”.

Lihatlah, bagaimana mereka berselisih dan menginginkan kebenaran, dan walaupun sudut pandang mereka berbeda dalam banyak masalah, namun mereka tidak saling mencela satu sama lain. Bahkan mereka saling mengakui kelebihan dan kebaikan masing-masing. Inilah mu’amalah yang harus dilakukan terhadap saudara-saudara kita.

Wallahu a’lam bishshawwab
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png
Buat Facebook Comment, klik disini